Keberkahan Ilmu
Beberapa hari yang lalu Saya
pergi ke luar kota untuk mengurus pendaftaran di salah satu Universitas di kota
tersebut. Karena pendaftarannya dimulai pada keesokan harinya. Saya jadi
menginap di rumah Syamil, teman Saya yang tinggal di kota tersebut.
Saya sampai di rumahnya sekitar
pukul sebelas siang. Lalu kami berbincang sebentar dan Shalat Dzuhur.
Syamil ini teman Saya saat SMP,
yang pindah ke luar kota saat lulus SMP. Dan dia sekolah di salah satu
pesantren. Saya bisa menginap di rumah dia karena kebetulan, pesantrennya
sedang mengijinkannya pulang minggu ini.
”Salman, mending kamu tidur dulu aja, pasti cape kan baru datang dari luar kota.” Kata Syamil
Atas usulannya Saya pun tidur di kamarnya.
Beberapa saat Saya tidur, Saya
terbangun pukul setengah empat sore. Yang berarti Shalat Ashar telah memasuki waktunya.
Namun saat terbangun, tidak terlihat teman Saya di kamarnya. Jadi dengan
inisiatif dan tanpa ijin, pergilah Saya ke kamar mandi yang ada di dapur.
Saat Saya berada di dapur, terlihat
dari jendela dapur, teman Saya ada diluar rumah. Sedang membakar sesuatu di dalam
tong.
Karena Saya penasaran. Saya pun mendatanginya.
“Kamu lagi apa Mil?” Saya
bertanya.
“Lagi bakar buku Man.” Jawabnya
sambil sesenggukan seperti orang yang baru menangis.
Saya kaget, kenapa teman Saya ini
menangis? Apakah matanya perih karena asap dari pembakaran buku itu? dan Saya
lebih kaget lagi karena yang dibakar dalam tong sampah itu adalah buku latihan
soal-soal. Yang tentu itu masih digunakan olehnya untuk belajar seleksi masuk Universitas.
“Lah, ko bukunya malah dibakar sih
Mil?” Saya bertanya
“Sengaja Man, buku ini telah
membuat Saya lalai untuk shalat berjamaah di masjid.” Jawabnya dengan suara
yang serak.
Saya masih tidak paham dengan apa
yang dikatakannya, kenapa sebuah buku bisa membuatnya lupa shalat berjamaah di
masjid? Apakah buku itu bisa menghadangnya di tengah jalan, lalu menyelengkat
kakinya sampai terjatuh? Saya tidak paham.
“Maksud kamu apa sih Mil?” Saya
bertanya tak mengerti.
“Ya, Man. Jadi tadi tuh, pas kamu
lagi tidur. Saya sedang mempelajari soal-soal dari buku itu. Saking fokusnya Saya
belajar. Saya sampai tidak mendengar suara adzan Ashar man. Bahaya sekali itu
kan, lalu Saya tersadar kalau Saya sudah terlewat beberapa menit untuk shalat
berjamaah. Tapi Saya tetap datang ke masjid untuk Shalat Ashar.
“Tapi saat Saya sampai ke masjid, Shalat berjamaahnya telah selesai. Dan akhirnya Saya Shalat sendiri di masjid Man.
Dan itulah yang membuat Saya sedih.” Jawa Syamil panjang lebar.
“Yaaa, tapi kan ga perlu sampai
bakar bukunya juga kali Mil.” Kata Saya
“Tidak Man, ini perlu Saya lakukan.
Buat apa Saya mempelajari sebuah buku yang justru malah membuat Saya lupa
dengan Allah, yang membuat Saya jauh dari Allah. Ga berkah ilmu Saya Man.”
Jawab Syamil tegas.
Dan disitu Saya tertegun, Saya
berpikir. Apakah ilmu yang Saya dapat selama ini berkah? Tiga tahun di SMA
justru membuat Saya lupa akan kebesaran-Nya. Saya lebih senang belajar dan diskusi
dengan tidak melibatkan-Nya. Bahkan, Saya bisa santai-santai saja
untuk shalat di akhir waktu dengan alasan sedang belajar. Sedangkan teman Saya
ini. Dia sudah bisa mencari keberkahan dalam ilmunya.
“Man, kamu kok malah melamun si?”
Syamil memecah lamunan Saya.
“Eh...emm...maaf maaf, saya jadi
terpikirkan dengan ilmu yang Saya dapat, sudah berkah atau belum ya?”
“Oooh sedang memikirkan itu, coba
saja evaluasi lagi Man. Apakah kamu bisa beribadah dengan ilmu yang kamu dapat?
Apakah kamu bisa mengamalkan ilmu yang kamu dapat dan bermanfaat bagi orang
banyak? Atau sebarapa jauh kah ilmu kamu dapat mendekatkan kamu kepada Allah?
Kamu harus bisa menjawab semua itu Man.” Tegas Syamil.
“Entahlah Mil, Saya masih merasa jauh
sekali dari Allah. Karena Saya merasa santai saja untuk melalaikan Shalat hanya
karena sedang belajar, tidak seperti kamu Mil. Yang bisa membakar sebuah buku
hanya karena buku itu melalaikan kamu dari Shalat Ashar.” Jawab Saya.
Itulah pelajaran yang Saya dapat
dari sahabat Saya ini. Mengenai keberkahan ilmu.
Saya jadi teringat cerita dari Guru Agama Saya. Tentang ulama-ulama
terdahulu yang sanggup berjalan sampai ratusan kilometer hanya untuk mendengar satu
hadits. Dan justru itulah yang membuat mereka menjadi ulama-ulama besar.
Juga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Bahkan mendapat jaminan untuk masuk
surga.
Mungkin itulah definisi ilmu berkah yang sesungguhnya.
Betapa congkaknya dirimu Salman,
kau merasa cukup dengan usahamu menuntut ilmu tanpa melibatkan Allah. Bukankah
manusia hidup di dunia ini untuk mencari ridho-Nya?
Apa yang sebetulnya kamu cari
dari ilmumu yang banyak Man? Penghasilan yang besar? Pekerjaan yang bagus?
Kesuksesan dunia? Ahhh, apalah arti semua itu? Itu semua hanya kesenangan
sesaat.
“Tidak apa-apa Man, sekarang
perbaharui saja mencari ilmumu. Dan Shalat Ashar dulu sana. Kamu belum shalat
kan?” Syamil memecah lamunan Saya lagi.
Segera Saya mengambil air wudhu
dan Shalat Ashar. Saya memohon ampun
kepada Allah atas ilmu yang Saya dapat ini, bersyukur atas hikmah ini. Dan
dalam doa itu. Saya menangis.
Komentar
Posting Komentar