Hujan Jatinangor, Bersama Kerinduan yang Dirindukan
Sudah beberapa hari ini Jatinangor diguyur oleh hujan, yang dengannya kegersangan berubah menjadi segar. Beberapa minggu di Jatinangor saya belum pernah berjumpa dengan rintikkan hujan. Padahal, bulan-bulan ini semestinya sudah memasuki musim penghujan (kalau tidak salah). Sampai saya teringat kalau ini bukan kota hujan. Kota hujan, dengan segala rintik air dari langit yang menghujani bumi. Selalu mampu menumbuhkan kerinduan dari setiap warganya. Dengan segala masalah di bumi, sampai dengan yang dipermasalahkan di langit. Kota hujan itu menuntut agar tidak terganti dalam hati. Terutama bagi warga Belanda yang menyebut buitenzorg karena kenyamanannya. Ya, kenyamanan adalah nilai tambah dari daerah yang buminya selalu bersyukur dengan rintikkan air hujan. Terlalu banyak menulis air hujan saya disini. Karena memang, saya merindukannya. Aroma tanah yang tercium selepas hujan turun menjadi aroma penenang setelah beberapa minggu kegersangan dan debu beterbangan di hadapan wajah...