Hujan Jatinangor, Bersama Kerinduan yang Dirindukan

Sudah beberapa hari ini Jatinangor diguyur oleh hujan, yang dengannya kegersangan berubah menjadi segar. Beberapa minggu di Jatinangor saya belum pernah berjumpa dengan rintikkan hujan. Padahal, bulan-bulan ini semestinya sudah memasuki musim penghujan (kalau tidak salah). Sampai saya teringat kalau ini bukan kota hujan.

Kota hujan, dengan segala rintik air dari langit yang menghujani bumi. Selalu mampu menumbuhkan kerinduan dari setiap warganya. Dengan segala masalah di bumi, sampai dengan yang dipermasalahkan di langit. Kota hujan itu menuntut agar tidak terganti dalam hati. Terutama bagi warga Belanda yang menyebut buitenzorg  karena kenyamanannya. Ya, kenyamanan adalah nilai tambah dari daerah yang buminya selalu bersyukur dengan rintikkan air hujan.

Terlalu banyak menulis air hujan saya disini. Karena memang, saya merindukannya. Aroma tanah yang tercium selepas hujan turun menjadi aroma penenang setelah beberapa minggu kegersangan dan debu beterbangan di hadapan wajah. Dengan segala hormat, saya membutuhkan banyak masker disini.

Sore tadi, hujan turun dengan derasnya. Tidak disertai petir, hanya air yang dengan derasnya memberikan sapaan tentang nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Saya sangat bersyukur, meskipun bisa dipastikan jemuran saya basah. Karena saya baru menjemurnya sebelum ashar. Kemudian disambut oleh air hujan yang seolah-olah ingin ikut mendinginkan baju-baju saya yang akan panas jika dijemur selepas ashar.

Begitulah malam ini, dengan segala kedinginan dan kerinduannya, bersama para kuli proyek yang sedang lembur di seberang sana. Bersama tanah merah yang licin karena beceknya. Saya ingin mengabadikan momen hujan ini.

Momen dimana para event organizer kampus membencinya, atau setidaknya tidak mengharapkannya. Karena dengan begitu acara outdoor mereka bisa rusak, pengunjung sepi dan defisit anggaran. Namun di beberapa desa, diprofesi outdoor mereka, di sawah yang membutuhkan air, mereka bercocok tanam, memanen, dan surplus kantong mereka. Begitulah dunia, dengan segala keluasannya yang sempit. Selalu menjadikan manusia pantas ditanya. Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan?

31 Oktober 2018 di Jatinangor, keinginan menulis, dan udara yang merindu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.