OSPEK dimaknai...


Di masa penerimaan mahasiswa baru, pasti semua kampus melakukan OSPEK (saya lupa kepanjangannya apa). Pokonya itu adalah masa pengenalan bagi mahasiswa baru. Dan begitupun saya sebagai mahasiswa baru. Yang dengan segala kelelahannya, mengikuti OSPEK.

Ada yang lucu disaat hari-hari UNPAD sedang melakukan OSPEK untuk mabanya. Ada yang mengkritik tentang OSPEK di UNPAD. Yang kritikan itu, sangat terlihat bukan dari anak UNPAD dan tidak substansial. Saya yakin banyak yang mengkritik OSPEK. Hanya saja, saya mencoba melihat dari kritikan mereka yang bukan warga UNPAD.

Yang dikritik oleh mereka-mereka adalah mengenai mahasiswa baru yang diperlakukan seperti robot, datang pagi dan dipaksa untuk mengikuti acara OSPEK sampai selesai. Dan tidak ada maba yang berani melawan.

Oke, sebagai manusia yang ikut OSPEK di UNPAD kemarin. Ada beberapa hal yang saya analisis mengenai OSPEK itu. Karena sebelum saya mengikuti OSPEK. Sedikitnya saya sudah mempertanyakan kepada diri saya sendiri, apakah saya perlu ikut OSPEK atau tidak. Dan pilihan saya adalah untuk mengikuti OSPEK.

Seperti lazimnya saat saya mengikuti pelatihan-pelatihan. Entah itu tentang pelatihan kepemimpinan atau yang lainnya. Saya berusaha mengambil segala hikmah dari apa yang sudah disampaikan oleh mereka yang berusaha melatih (baca: mendidik).

Saya ingin menjabarkan satu per satu apa saja hikmah atau nilai-nilai yang saya sadari dan saya dapatkan dari ospek kemarin. Walaupun jadinya hanya sedikit dan tidak menyeluruh. Tapi, setidaknya saya berusaha untuk memahami dan menjabarkannya.

Pertama, mengenai datang pagi. Mahasiswa baru disuruh untuk datang pukul lima pagi. Walaupun ada yang ngaret-ngaret dikit. Tapi kami di suruh untuk mengusahakan diri datang pukul lima pagi. Untuk datang pagi ini menurut saya tidak hanya di OSPEK UNIVERSITAS yang menuntut. Ospek SMP, SMA pun menuntut kita untuk datang pagi. Saya menyadari bahwa ini adalah proses pendidikan untuk membiasakan kita untuk tepat waktu nantinya. Walaupun saya tidak tahu kedepannya kuliah perlu datang pagi atau tidak. Setidaknya, kami semua dididik untuk datang tepat waktu. Walaupun belum cukup untuk menjadi pembiasaan.

Terlebih lagi, yang mengikuti OSPEK UNIV itu mencapai ribuan maba. Dan perlu waktu yang tidak sedikit untuk memobilisasinya ke tempat acara.

Kedua, mengenai istilah yang menyebutkan maba itu seperti robot. Saya dan kawan diskusi saya tidak sepakat dengan hal ini. Karena menurut kami, saat ospek kemarin masih ada sifat humanisnya. Dimana kakak-kakak fasilitator memberikan semangat kepada maba dan memberikan pertolongan pertama pada mereka yang sakit. Maba tidak diperlakukan seperti robot disini. Dan untuk keamanan yang tegas dan sedikit membikin mental tersentak, saya menyadari.

Jika tidak ada keamanan yang tegas seperti itu. Mungkin tidak ada maba-maba yang tertib. Karena seperti yang kita tahu bahwa peserta OSPEK itu ada ribuan orang. Dan perlu ketegasan untuk menertibkan manusia-manusia yang ribuan itu.

Ketiga, mengenain Ichi Ocha. Saya curiga bahwa ada politisasi disini. Terlihat sekali, bahwa terjadi problem internal di panitia. Dimana Ichi Ocha yang sebagai sponsor melakukan kesepakatan pada panitia. Sehingga baru di beritahu untuk membawa Ichi Ocha itu sehari sebelumnya (bahkan malamnya). Dan ini sangat tidak etis. Karena saya yakin pendadakan seperti ini tidak perlu dibiasakan di OSPEK. Karena saat kuliah nanti pun pendadakan seperti ini seharusnya dihindari oleh kampus. Awalnya saya berusaha mengambil pelajaran. Bahwa, mungkin saja ini mendidik kita untuk bersiap jika nanti ada sesuatu yang mendadak saat kuliah. Tapi, saat saya tahu ternyata Ichi Ocha itu hanya untuk diangkat selama sepuluh detik dan direkam saat OSPEK. Saya merasa kecewa, dan berpikir. Mungkin inilah hikmah dari kuliah nantinya, dimana kita akan diberi tugas mendadak yang ternyata hanya untuk diperlakukan menjadi hal-hal yang remeh.

Kira-kira seperti itu sedikit hal yang bisa saya baca dari OSPEK UNPAD 2018. Semua ini murni pengalaman saya saat ikut OSPEK dan berusaha untuk memaknainya. Karena sebelum saya mengikuti ospek, saya sempat bertanya-tanya. Apa yang sebetulnya perlu saya kenali dari Universitas Padjajaran ini? Apakah sebuah nama Pa Rektor? Atau bangunan-bangunan yang ada di UNPAD? Ahh, itu mah ga ikut ospek juga bisa nyari tahu sendiri.

Namun ada hal yang saya rasa tidak didapatkan jika saya tidak ikut OSPEK. Yaitu pengalaman untuk memahami baik buruknya UNPAD (sedikitnya). Dan itu bisa dirasakan dan terlihat saat saya menjadi peserta dari acara yang disusun oleh kepanitiaan dari UNPAD. Dan saya sedikitnya sudah melihat baik buruknya UNPAD dari orientasinya kemarin. Karena acara yang dilakukan oleh sebuah institusi, merupakan sebuah miniatur kehidupan institusi itu sendiri.

Cukup. Jatinangor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.