Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.
Zaman dewasa ini adalah sebuah masa
kedewasaan yang tanggung untuk Indonesia. Karena semuanya serasa dipaksakan
untuk maju. Walaupun, masih banyak yang belum siap untuk kemajuan itu. Atau
lebih tepatnya “kurang dipersiapkan”. Dan mereka yang menyadari perlunya
kemajuan ini, memaksakan masyarakat untuk maju. Sebagai dalih untuk mendidik
masyarakat yang perlu untuk maju.
Bahkan remaja yang sangat mudah
mengakses sosial media. Seolah-olah dibiasakan untuk bersosialisasi dengan orang
lain. Bahkan segala informasi, segala trend,
segala merk, segala wanita, segala politik, segala dakwah, segala tugas-tugas
sekolah pun, disosialisasikan melalui sosial media. Apakah ini sebuah indikator
ketercapaian dari masyarakat maju?
Ada sebuah proses dalam
pendidikan yang sering diutarakan oleh para pengajar. Dimana pendidikan itu melalui proses paksa-bisa-biasa. Mungkin tentang sosial media ini. Masyarakat
masih dalam proses PAKSAan.
Begitu beragam portal sosial
media zaman sekarang ini. Namun, tidak semua portal sosial media ini mampu di install oleh storage smartphone manusia Indonesia. Ada yang sudah penuh dengan
tugas kenegaraan. Ataupun sudah rusak dan tidak mampu membeli smartphone mutakhir untuk menginstall
seluruh portal sosial media. Yang bahkan mempromosikan sosial medianya pun
dengan sosialisasi lewat sosial media.
Walaupun harga smartphone sudah banyak yang murah. Namun,
tetap saja. Masih ada masyarakat yang tidak bisa memakan smartphone dengan
penghasilannya.
Itu yang meresahkan saya saat
ini. Karena tidak semua manusia Indonesia ini mampu memenuhi syarat untuk
menginstall sosial media. Maka yang terjadi adalah, kebutaan dan kemunduran pada mereka yang tidak mampu menginstall sosial media. Dan sosial media di fase
pemaksaan ini, kurang mensosialisasikan diri kepada mereka yang tidak mampu menginstall sosial media jika ada info atau berita yang perlu disosialisasikan.
Inilah yang berbahaya. Media di
layar kaca sudah di politisasi dan lebih banyak hiburan, media cetak sedikit
sulit mendapatkannya dan tidak praktis, berita di internet sedikit sulit di
akses oleh mereka yang smartphone-nya kurang cerdas dan ketinggalan jaman atau
mereka yang tidak punya perangkat elektronik untuk internetan. Sehingga, pilihan yang tepat dan sering digunakan untuk sosialisasi kepada masyarakat adalah melalui sosial media. Dan itu hanya mampu dipakai oleh mereka yang memiliki smartphone dengan portal sosial media yang mumpuni.
Dan jika proses penyampaian
informasi menjadi mudah hanya untuk segelintir orang saja. Maka, mereka yang
kesusahan untuk mendapatkan informasi, hanya bisa mendidik diri dengan caranya
sendiri. Dan ini adalah sebuah ketidakadilan dalam hal penyampaian informasi.
Namun, Ada yang dapat diambil
dari butanya mereka yang tidak memiliki sosial media, yaitu kehidupan tenang
yang tidak perlu memusingkan orang lain dan tidak memusingkan diri dengan berita
yang tidak perlu di akses.
Namun sekalinya ada informasi
penting atau tugas untuk dia. Yang walaupun tugasnya hanya sebatas perintah untuk mengumpulkan
Ichi Ocha. Dimana itu hanya di infokan melalui instagram. Maka dia yang tidak
mempunyai instagram menjadi manusia yang seakan-akan hidup berjuta tahun lalu
bersama dinosaurus sang raja ketamakan. Dimana mereka yang tidak mampu berlari,
maka dinosaurus akan memakannya. Walaupun dinosaurus itu adalah seekor
omnivora.
Kedepannya, semoga saja manusia
Indonesia menjadi manusia yang mampu berlari mencapai check point dalam permasalahan sosial media ini. Dan permasalahan
ini akan terdinamisasi kembali saat manusia Indonesia yang daya baca bukunya kurang,
bertemu dengan alat elektronik hasil rakitan manusia yang membaca bukunya banyak. Sehingga masyarakat Indonesia justru akan dibodohi oleh gadget smartphone yang smartphone-nya sendiri tidak paham mengapa phone itu smart.
Tapi yang perlu diperhitungkan juga.
Bahwa, manusia Indonesia ini begitu banyak dan luas. Dan perlu usaha keras
untuk menjangkaunya. Terutama koneksi internet yang dengan mudahnya menyulitkan
manusia yang tidak paham dengan kecerdasan alatnya.
Yaaah, begitulah sosial media. Perlu diperalat agar dia
tidak memperalat dengan membodohi manusia yang telat.
Jatinangor, dimalam yang penuh
kerisihan.
Komentar
Posting Komentar