Semen Basah
Dua orang sahabat sedang berjalan di sebuah perkampungan. Mereka berbincang sambil terus berjalan untuk pergi ke rumah teman mereka. Mereka berbelok untuk masuk salah satu gang. Namun langkah mereka terhenti di muka gang.
“Eh itu semennya masih basah
jangan diinjek.” Salah seorang dari mereka berkata dan menunjuk sebuah tulisan
yang berada di atas bangku. Persis sebelah muka jalanan gang tersebut.
Jalanan di gang tersebut memang
sedang disemen. Karena daerah perkampungan sedang membenahi infrastruktur yang
ada, salah satunya adalah jalan setapak. Dengan ada perbaikan lingkungan tersebut diharapkan nantinya tidak
ada lagi jalanan yang masih beralaskan tanah.
“Itu sudah kering, cuma karena
ada genangan air di atasnya aja basah.” Temannya justru membantah dengan
meyakini semen tersebut sudah kering.
“Tapi tetap saja kita ga boleh
nginjek, tuh liat ada papan himbauannya.” Temannya membalas sambil menunjuk
papan bertuliskan “DILARANG MENGINJAK, SEMEN MASIH BASAH”
“Yaelah, itu mah papan udah dari kemarin
kali, sekarang mah udah kering semennya, jadi papannya ga guna lagi.”
“Eh ga gitu dong, himbauannya itu
dibuat untuk dipatuhi kan, mau gimana pun kondisinya kita tetap ga boleh
nginjek semen yang basah itu.”
“Liat deh, di papan tuh
tulisannya jangan injek semen karena masih basah kan. Itu kan udah kering
semennya jadi kita gapapa dong kalau injek semennya.”
“Itu belum kering, tuh liat masih
basah.”
Semen tersebut memang masih
terlihat basah. Dengan warna abu-abu yang tidak sempurna.
“Itu tuh udah kering tapi karena
tadi kena air hujan jadi basah semen yang udah keringnya.” Dia meyakini bahwa
warna semen yang berbeda tersebut hanya karena ada air diatas semen yang sudah
kering. Jika dilihat memang agak sulit membedakan antara warna semen basah
dengan semen kering yang berada kubangan air diatasnya.
“Tapi tetap saja, mau itu sudah
kering atau belum selama himbauan tersebut masih terpampang. Maka seharusnya
itu untuk dipatuhi. Kita harusnya tidak melewati jalanan ini.” Temannya
berusaha patuh terhadap himbaun yang ada.
“Ah, himbauan itu hanya sebatas
himbauan jika kondisi di lapangannya berbeda. Himbauan tersebut kan untuk semen
yang basah. Kalau semennya kering maka himbauan tersebut tidak berlaku.”
“Tapi tetap saja kita harusnya
mematuhi himbauan tersebut kan. Masyarakat pasti mengharapkan himbauan tersebut
dipatuhi. Makanya menulis tulisan di papan tersebut. Kita sebagai pendatang
seharusnya mematuhi aturan tersebut.”
Mereka terus berdebat di muka
gang tersebut. Kebetulan jalanan di muka gang tersebut sedang sepi. Tidak ada
warga yang melintas sehingga tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap mereka
tentang himbauan tersebut. Itu berarti, tidak ada yang memerhatikan perdebatan
mereka.
“Tetap saja. Peraturan atau
himbaun itu harusnya berlaku sesuai dengan realita yang ada. Jika realita sudah
berubah maka seharusnya aturan atau himbauan tersebut tidak berlaku. Bahkan
mestinya diubah. Aturan itu mewujud dari kebutuhan realita masyarakat yang ada.
Bukan justru malah menyusahkan masyarakat.”
“Tapi yang membuat himbauan
tersebut warga sekitar kan. Mereka pasti punya alasan tersendiri kenapa papan
himbauan tersebut masih terpasang. Belum diambil. Mereka pasti ingin semen
tersebut tidak diinjak dulu oleh siapapun.”
“Bisa saja warga sini belum
sempat mengambil papan himbauan tersebut padahal semen ini sudah kering kan.
Warga pun pasti memiliki kesibukan masing-masing yang membuat mereka lupa untuk
mengambil papan himbauan itu.” Sambil menunjuk papan himbauan.
“Bisa juga warga sini memang
sengaja belum memindahkannya kan? Karena warga tahu jika semen tersebut masih
basah”
“Itu terlihat sudah kering.”
“Itu terlihat masih basah.”
“Bagaimana jika sudah kering?”
“Bagaimana jika masih basah?”
“Berarti aturan atau himbauan
tersebut sesuai dengan apa yang terjadi.”
“Memang seperti itu kan aturan
atau himbauan hadir dan diberlakukan.”
“Kamu tahu jika ada aturan dari
kepolisian untuk menyalakan lampu kendaraan bermotor di siang hari? Aturan
tersebut mungkin berlaku bagi kawasan yang saat disiang hari jarak pandaknya pendek.
Seperti ada kabut asap atau gangguan lainnya di jalanan. Namun aturan tersebut
semestinya tidak berlaku di kawasan yang saat di siang hari sudah terang dan
jarak pandang sangat amat jelas. Itulah maksudku jika aturan bisa saja tidak
sesuai dengan realita yang terjadi pada masyarakat.” Jelasnya dengan panjang
lebar.
“Pihak yang berwenang pasti
memiliki alasan tersendiri mengapa aturan tersebut diberlakukan. Sebagai warga
yang baik sudah semestinya kita mematuhi aturan yang berlaku tersebut.”
“Buat apa mematuhi aturan yang
dalam melaksanakannya justru tidak menguntungkan diri kita sama sekali. Bahkan
jatuhnya merugikan kita.”
“Aturan itu kan bisa terbentuk
dari atas ke bawah. Dari tataran pemerintah menuju warga. Sebagai sebuah bentuk
kepedulian pemerintah atas analisisnya terhadap kondisi masyarakat. Yang
mungkin masyarakat pun tidak menyadari apa kebutuhannya.”
“Tapi semestinya aturan hadir atas kebutuhan masyarakat kan. Karena siapa lagi yang akan menjalankan aturan tersebut jika bukan masyarakat. Aturan hanya sebatas formalitas hitam di atas putih jika seperti itu.”
"Aku pernah melihat orang yang melanggar lampu lalu lintas. Saat lampu tersebut berwarna merah. Memang pada saat itu tidak ada polisi disana. Juga tidak ada kendaraan yang lewat dari arah sebaliknya. Tapi tetap saja, aturan lampu lalu lintas tersebut bagiku tidak boleh dilanggar. Karena akan sangat berbahaya dan mengganggu pengguna jalan lainya."
"Memang sebetulnya Aku tidak sepakat dengan pelanggaran tersebut. Tapi kondisi jalanan yang lengang dan tidak ada pengendara lain dari arah sebaliknya, membuka peluang terjadinya pelanggaran. Tapi semen ini adalah hal yan berbeda."
“Sudahlah, terlalu lama kita
berbicara tentang aturan-aturan tersebut. Kita lewat jalan memutar saja. Aku
tidak ingin bertanggung jawab jika semen tersebut nanti kuinjak dan
meninggalkan jejak. Kita ini pendatang. Akan ribet urusannya.”
“Ya sudah, lama-lama Aku capek
juga berdebat denganmu. Kita lewati jalan memutar saja.” Dia pun berjalan
berbalik arah dari muka gang dan meninggalkan gang yang jalanannya disemen.
Temannya yang meyakini jika semen
tersebut masih basah justru menjadi penasaran. Dia berjongkok. Menjulurkan
tangannya untuk menyentuh semen tersebut. Ternyata semen tersebut sudah kering.
Namun diatasnya ada genangan air. Sehingga terlihat masih basah!
Komentar
Posting Komentar