Postingan

Membaca Tugas Cendekiawan Muslim, Serasa Dinasihati oleh Ali Syariati

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja membaca buku yang ditulis Ali Syariati ‘Tugas Cendekiawan Muslim’. Sebetulnya buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan yang tidak saling berkaitan antar babnya. Namun menurut saya tulisan tersebut masih memiliki pokok bahasan yang sama, yaitu tentang menjadi muslim yang mesti sadar akan realita sosialnya. Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amien Rais ini terdiri dari delapan bab yang dimulai dengan upaya Ali Syariati untuk menunjukkan hakikat sebenarnya dari manusia dalam Islam di bab “Manusia dan Islam”. Kemudian Ali Syariati menunjukkan pandangan dunia, dimana Ali Syariati menjelaskan beberapa ‘pandangan dunia’ yang lahir di bumi ini dan bagaimana perkembangannya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, setelah itu Ali Syariati berusaha menunjukkan pandangan dunia berdasarkan Islam. Di bab ketiga Ali Syariati menjelaskan gagasannya tentang beberapa hal yang mampu memenjarakan manusia, bab ini diberi judul “...

Jurusan Sosiologi tuh belajar apa sih...?

Saya kesal dengan orang yang suka meremehkan jurusan kuliah. Sebagai mahasiswa sosiologi, Saya sering mendapat pertanyaan dengan nada meremehkan. Kuliah sosiologi itu belajar apa sih? Belajar tentang masyarakat ya? Terus nanti kerjanya apa? Kalau udah kerja gajinya gede ga? Masa depannya suram ya kuliah di jurusan sosiologi itu?  Dan segala pertanyaan soal kuliah yang selalu dihubung-hubungkan dengan kerja selepas lulus nanti. Dulu mungkin pertanyaan itu hanya disampaikan pada beberapa kesempatan. Seperti saat Saya memilih jurusan kuliah waktu di SMA. Tapi sekarang, pertanyaan tentang jurusan kuliah itu sudah tidak lagi mengenal ruang dan waktu. Pernah suatu hari, saat Saya sedang beli ketoprak bersama teman dari jurusan teknologi informatika. Kemampuan Saya untuk menjelaskan jurusan Sosiologi kepada orang lain, diuji. Kami berdua membeli dua bungkus ketoprak.   Saat ketopraknya sudah jadi dan Saya membayar dengan uang 50.000, Mamang penjual ketoprak menghitung. “Kalau...

Semen Basah

Dua orang sahabat sedang berjalan di sebuah perkampungan. Mereka berbincang sambil terus berjalan untuk pergi ke rumah teman mereka. Mereka berbelok untuk masuk salah satu gang. Namun langkah mereka terhenti di muka gang. “Eh itu semennya masih basah jangan diinjek.” Salah seorang dari mereka berkata dan menunjuk sebuah tulisan yang berada di atas bangku. Persis sebelah muka jalanan gang tersebut. Jalanan di gang tersebut memang sedang disemen. Karena daerah perkampungan sedang membenahi infrastruktur yang ada, salah satunya adalah jalan setapak. Dengan ada perbaikan   lingkungan tersebut diharapkan nantinya tidak ada lagi jalanan yang masih beralaskan tanah. “Itu sudah kering, cuma karena ada genangan air di atasnya aja basah.” Temannya justru membantah dengan meyakini semen tersebut sudah kering. “Tapi tetap saja kita ga boleh nginjek, tuh liat ada papan himbauannya.” Temannya membalas sambil menunjuk papan bertuliskan “DILARANG MENGINJAK, SEMEN MASIH BASAH” “Yaelah, it...

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai Sesuatu?

Tulisan ini berusaha untuk menceritakan kalimat-kalimat apa saja yang ternyata membuat Azka Khaerun Nadi menjadi malas dan akhirnya berani untuk menunda-nunda sesuatu. Salah satunya adalah kalimat Tidak Ada Kata Terlambat untuk Memulai Sesuatu. Kalimat ini apabila didengar sangat amat masuk akal dan memotivasi, apalagi kalau yang bicaranya adalah seorang motivator ternama yang dengan tegas, ekspresif dan seperti bisa menyelesaikan segala permasalahan di muka bumi menyampaikan ini di atas panggung dengan ratusan atau bahkan ribuan penonton. Namun dibalik kalimat tersebut, justru Saya malah melihat sisi buruknya. Kalimat tersebut, justru malah membuat Saya berani membiarkan suatu pekerjaan untuk tidak dilakukan sedini mungkin. Dan akhirnya, tidak melakukannya sama sekali. Kalimat tersebut membuat Saya berpikir bodo amat terhadap capaian manusia lain, terutama mereka yang seumuran dengan Saya. Saat ada manusia seumuran Saya yang bisa sukses menjadi youtuber misalnya, Saya memiliki dal...

Film Imperfect: Sebuah Gambaran Bagaimana Konstruksi Sosial Terjadi

Film Imperfect menceritakan kisah hidup Rara (Jessica Milla), seorang perempuan yang memiliki badan gendut, kulit berwarna gelap dan rambut yang agak tidak terurus. Penampilan itu dilengkapi dengan pakaian baju yang berwarna pucat dan sepatu kets tidak menarik yang ia gunakan. Dalam film ini penampilan tersebut berusaha ditunjukkan sebagai penampilan yang tidak menarik (bagi perempuan) sehingga mengundang komentar-komentar yang menyudutkan Rara, dalam hal ini adalah orang-orang yang berada disekitarnya. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini menggambarkan bagaimana sosok Rara yang sedari kecil sudah mendapatkan komentar tentang penampilannya. Bahkan komentar tersebut terucap dari salah satu anggota keluarganya sendiri yaitu Ibunya, Debby (Karina Suwandi) seperti ucapan “kak, kurangin nasinya.” atau “kak, ingat paha.” sebagai kalimat yang membersamai saat makan bersama. Juga kalimat pengingat lainnya seperti “Jangan lupa pakai sunblock.” Yang diucapkan pada Rara sebelum ia...

Tidak Terasa

Di hari ahad ini, bersama langit yang cerah dan udara yang membawa hawa kenyaman untuk tidur di siang bolong. Di kecamatan Jatinangor, di tempat perantauan ini, di tempat yang jauh dari orang tua. Saya berpuasa. Puasa di bulan Ramadhan ini begitu spesial bagi saya. Bukan hanya karena segala amal kebaikan yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Tapi puasa tahun ini begitu spesial, karena sahur dan berbuka puasanya saya, tidak bersama keluarga. Kondisi ini baru pertama kali saya rasakan. Bahkan awal puasa (atau banyak yang menyebutnya munggahan) tidak saya lakukan bersama keluarga saya di rumah. Kemudian tidak terasa, puasa ini sudah memasuki hari ke-14 Ramadhan. Begitu banyak target ibadah di bulan Ramadhan ini yang tidak terkawal dengan baik oleh saya hanya karena urusan kampus dan urusan duniawi lainnya. Bulan purnama yang begitu terang tadi malam, menjadi pengingat bagi saya tentang waktu yang berlalu dengan begitu cepatnya. Purnama itu seperti hanya sebatas mengucapkan "halo...

Ditipu.

Gambar
Awal bulan Januari 2019. Ada sebuah perisitiwa yang tidak akan pernah saya lupakan. Bahkan tanpa sebuah tulisan pun sepertinya akan selalu saya ingat. Peristiwa yang tidak pernah saya sangka-sangka. Peristiwa yang tidak pernah saya harapkan, dan saya yakin tidak akan ada manusia yang mengharapkan peristiwa tersebut terjadi padanya. Peristiwa yang tidak pernah terlupakan itu adalah. Perisitiwa ditipunya Azka Khaerun Nadi. Berawal dari sebuah postingan di sebuah akun facebook yang saya lihat, sebuah postingan yang menjual smartphone seharga 700 ribu. Dipostingan tersebut mereka berdalih sedang melakukan cuci gudang. Saat saya kontak whatsappnya. Ia, memang berlaku seperti penjual hape beneran. Tidak ada fiktif-fiktifnya. Bahkan saat saya tanya alamat dia memberikan sebuah alamat lengkap dengan rt/rw nya. Saat saya tanya mengenai namanya, ia memberikan poto seseorang yang sedang berada di sebuah toko hape, lalu ada poto ktp dan poto surat ijin usaha sebuah toko bernama Galery Phone. ...