Membaca Tugas Cendekiawan Muslim, Serasa Dinasihati oleh Ali Syariati

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja membaca buku yang ditulis Ali Syariati ‘Tugas Cendekiawan Muslim’. Sebetulnya buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan yang tidak saling berkaitan antar babnya. Namun menurut saya tulisan tersebut masih memiliki pokok bahasan yang sama, yaitu tentang menjadi muslim yang mesti sadar akan realita sosialnya.

Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amien Rais ini terdiri dari delapan bab yang dimulai dengan upaya Ali Syariati untuk menunjukkan hakikat sebenarnya dari manusia dalam Islam di bab “Manusia dan Islam”. Kemudian Ali Syariati menunjukkan pandangan dunia, dimana Ali Syariati menjelaskan beberapa ‘pandangan dunia’ yang lahir di bumi ini dan bagaimana perkembangannya serta penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, setelah itu Ali Syariati berusaha menunjukkan pandangan dunia berdasarkan Islam. Di bab ketiga Ali Syariati menjelaskan gagasannya tentang beberapa hal yang mampu memenjarakan manusia, bab ini diberi judul “Empat Penjara Manusia”. Dilanjutkan dengan bab keempat yang diberi judul “Piramid Sosiologi Kebudayaan”, sebuah analisis Ali Syariati yang sosiolog kebudayaan terhadap fenomena kebudayaan yang terjadi di Iran saat itu. Bab ini sedikit berkaitan dengan bab selanjutnya yaitu “Penggalian dan Penyaringan Sumber-Sumber Kebudayaan”.

Setelah membahas tentang kondisi kebudayaan, Ali Syariati melanjutkan bab selanjutnya dengan membahas “Ideologi”. Di bab yang diberi judul ideologi ini Ali Syariati mencoba menunjukkan apa itu sebetulnya ideologi dan menjelaskan bahwa dalam menganut suatu ideologi kita tidak bisa menganalisisnya sama seperti menganalisis sebuah ilmu, yang kemudian Ali Syariati menyampaikan bagaimana Islam juga bisa dijadikan sebagai sebuah ideologi. Terakhir, di bab delapan adalah bab “Peranan Kaum Intelektual Dalam Masyarakat”, bab ini sebetulnya tulisan yang berisi tanya jawab antara muridnya (mahasiswa) dengan Ali Syariati, tanya-jawab tersebut kebanyakan membahas soal kebudayaan di Iran saat itu dan bagaimana sepatutnya mereka bertindak atas segala realita sosial kebudayaan yang telah diutarakan oleh Ali Syariati saat itu.  

Buku ini membahas banyak hal soal keimanan (yang dibahas di bab awal), kisah qabil dan habil sebagai konflik pertama yang terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia, penggambaran realita masyarakat timur yang masih belum mandiri dalam berpikir, sampai pada nasihat bagaimana cendikiawan muslim semestinya bertindak. Sebagai ilmuwan Iran Ali Syariati memiliki keresahan akan kondisi sosial masyarakat timur, lebih khusus Iran yang menurutnya selalu mengikuti kebudayaan barat. Bahkan mengikuti secara plek-plekan tanpa melihat apakah hal tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat timur seperti di Iran.

Ali Syariati begitu khawatir terhadap kondisi kebudayaan Iran yang makin lama akan hilang nantinya dan digantikan oleh kebudayaan dan cara pandang yang diadopsi dari barat. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya upaya massif yang dilakukan oleh barat untuk membentuk standarisasi kebudayaan, soal keindahan, produk, dan lain sebagainya. Hingga apabila standar tersebut sudah terbentuk maka barat bisa lebih mudah untuk menjual dagangannya.

Misalnya, apabila masyarakat Afrika memiliki standar kecantikan bahwa perempuan itu mesti putih, maka para kapitalis (dari barat) yang menjual produk kecantikan itu tidak perlu repot-repot menjual produk yang mesti sesuai dengan warna kulit perempuan Afrika yang gelap. Yap, Ali Syariati melihat agenda hegemoni kebudayaan ini sebagai sebuah ajang untuk mendulang keuntungan semata bagi barat. Sebuah agenda besar terhadap masyarakat timur dari masyarakat barat

Ali Syariati juga menyebutkan hubungan masyarakat timur dengan agama memang masih bertalian dengan timur, tapi untuk persoalan keilmuan dan kultur borjuis masyarakat timur (khususnya Iran) lebih condong ke barat. Ali Syariati mengingatkan untuk tidak menelan mentah-mentah segala keilmuan dari barat tersebut, kita mesti mampu berpikir ilmiah dan jujur terhadap itu. Layaknya makanan kaleng, ilmu-ilmu yang berisikan metodologi, permasalahan ilmiah, cara berpikir, kritik, konsep serta gagasan dari barat tersebut dibungkus rapi dan diberi cap untuk kemudian dikirimkan pada cendikiawan timur yang berorientasi dari barat. Hal ini yang menjadi kegelisahan Ali Syariati tentang kemandirian berpikir cendekiawan timur, karena kultur ilmiah dari barat menurutnya mengarahkan pada hal yang berbau modernisme dan tentunya, menjauhkan cendekiawan timur terhadap realita yang terjadi dalam masyarakatnya. Suatu hal yang cukup berbahaya bagi kalangan cendekiawan.

Kegiatan yang mengikuti hal kebarat-baratan itu pun tidak hanya terjadi dalam aspek kebudayaan. Tapi juga telah menjamah ranah keilmuan. Di mana para sarjana yang baru saja pulang dari barat (seperti Eropa) itu banyak melakukan metode dan teori yang diambil dari barat untuk melihat fenomena yang terjadi di masyarakat timur, khususnya Iran.

Tindakan penggunaan teori dari barat untuk melihat fenomena sosial di Iran yang jelas berbeda mengingatkan saya tentang studi ilmu sosial di Indonesia, di mana banyak teori, metodologi serta cara pandang barat yang digunakan untuk melihat dan menganalisis suatu fenomena sosial di Indonesia. Terbesit dalam benak saya tentang kemampuan para cendekiawan di Indonesia untuk menciptakan teori secara mandiri untuk melihat fenomena yang terjadi di Indonesia. Berdasar pada pengalaman kuliah, saya selalu mengaitkan fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia dengan teori yang dihasilkan dari barat.

Membaca tulisan Ali Syariati menurut saya sangat relatable dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mungkin karena Iran dan Indonesia memiliki kemiripan dari adat ketimuran, sebagai negara bekas jajahan dan juga negara yang penduduknya mayoritas muslim. Kita memiliki kesamaan dalam hal keilmuan yang memiliki ketergantungan dengan barat. Hal ini kiranya yang menyebabkan semangat Ali Syariati di Iran semestinya mampu pula menyulut semangat pergerakan intelektual di Indonesia.

Di buku itu juga berisi tanya jawab antara Ali Syariat dengan mahasiswanya tentang bagaimana kebudayaan, seorang intelektual, dan seorang muslim yang semestinya mampu menyadarkan muslim yang lain. Ali Syariati memang lebih banyak menyampaikan dari aspek sosiologis ketimbang agama, dan dia pun mengakui hal tersebut. Tapi intinya adalah dia menekankan pada umat muslim di Iran saat itu untuk tidak menghilangkan jati dirinya sebagai orang Iran. Di tengah hegemoni kebudayaan serta berbagai kepentingan negara barat yang menyasar negara timur saat itu.

Pada beberapa tulisan dalam buku ini juga, Ali Syariati menerangkan tentang konsep Imam dalam Syiah yang banyak dianut oleh masyarakat Iran. Kita kiranya perlu agak kritis terhadap bagian tersebut (meskipun tidak banyak) untuk tidak melihat suatu gagasan dari siapa yang menyampaikannya, tapi dari apa yang disampaikannya, seperti yang diingatkan oleh Amien Rais pada kata pengantar buku ini yang tidak bermaksud memercikan pandangan-pandangan Syiah pada pembaca di Indonesia namun untuk menunjukkan gagasan-gagasan dari Ali Syariati. Secara keseluruhan, dengan membaca tulisan Ali Syariati ini membuat saya serasa dinasihati dari segi keislaman dan juga soal peran seorang muslim yang tidak boleh melupakan peran sosialnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.