Film Imperfect: Sebuah Gambaran Bagaimana Konstruksi Sosial Terjadi
Film Imperfect menceritakan kisah
hidup Rara (Jessica Milla), seorang perempuan yang memiliki badan gendut, kulit
berwarna gelap dan rambut yang agak tidak terurus. Penampilan itu dilengkapi dengan
pakaian baju yang berwarna pucat dan sepatu kets tidak menarik yang ia gunakan. Dalam film ini penampilan tersebut berusaha ditunjukkan sebagai penampilan yang tidak menarik
(bagi perempuan) sehingga mengundang komentar-komentar yang menyudutkan Rara, dalam hal ini adalah orang-orang yang berada disekitarnya.
Film yang disutradarai oleh Ernest
Prakasa ini menggambarkan bagaimana sosok Rara yang sedari kecil sudah mendapatkan
komentar tentang penampilannya. Bahkan komentar tersebut terucap dari salah
satu anggota keluarganya sendiri yaitu Ibunya, Debby (Karina Suwandi) seperti ucapan “kak,
kurangin nasinya.” atau “kak, ingat paha.” sebagai kalimat yang membersamai saat makan bersama. Juga kalimat pengingat lainnya seperti “Jangan lupa pakai sunblock.”
Yang diucapkan pada Rara sebelum ia pergi keluar rumah bersama Dika (Reza
Rahadian) pacarnya.
Dalam keluarga tersebut sang Ayah digambarkan sebagai tokoh baik yang justru mengajarkan Rara untuk tidak terlalu
peduli pandangan orang lain terhadap penampilannya. Sang Ayahlah yang bisa
memberi restu kepada Rara untuk menambah nasi disaat makan, bahkan memberikan
coklat sebagai penghibur saat Rara terluka saat terjatuh dari sepeda. Karena
memang, bentuk fisik Rara diceritakan turun dari gen ayahnya yang
gendut, berkulit gelap dan rambut keriting. Berbeda dengan adiknya Lulu (Yasmin Napper)
yang bentuk fisiknya mengikuti gen dari sang Ibu yang berkulit cerah, langsing
dan ‘cantik’.
Kurang cukup komentar dari keluarganya,
teman-teman di lingkungan kerjanya pun ikut meramaikan keikutsertaannya dalam memberikan komentar tentang penampilan Rara. Komentar yang
diberikan berkisar pada model pakaian Rara yang berbeda dengan penampilan
perempuan di tempat kerjanya, yaitu sebuah perusahaan kosmetik. Hal ini menunjukkan
perempuan yang bekerja di perusahaan kosmetik tersebut terlihat cantik, sangat modelis dan sangat berbeda
dengan penampilan Rara. Komentar yang dikeluarkan oleh teman-temannya pun
berkisar pada pakaian yang digunakan oleh Rara, atau bahkan sebuah ajakan untuk
memakai sepatu hak tinggi yang katanya nyaman dipakai. Ajakan yang disertai
dengan keinginan untuk mengejek tentunya.
Pandangan orang-orang disekitar
Rara tentang penampilan perempuan tersebut merupakan sebuah hasil dari proses
sosial individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Individu yang saling
berinteraksi hingga memiliki pemahaman yang sama tentang penampilan yang menarik. Hingga nantinya interaksi yang dilakukan secara terus-menerus
tersebut menciptakan sebuah realitas subjektif yang dirasakan bersama. Proses tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah konstruksi sosial atas
realitas. Dengan salah satu pencetus dari teori konstruksi sosial ini adalah Peter L.
Berger dan Thomas Luckmann.
Menurut Berger dan Luckmann manusia
sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif setidaknya mengalami tiga momen
dialektis yang simultan yaitu fase eksternalisasi, objektifikasi dan
internalisasi. Dalam tahap eksternalisasi, individu berusaha beradaptasi dengan
lingkungannya. Lalu dalam tahap objektivasi individu akan berinteraksi dengan
lingkungan di luar dirinya, dalam tahap ini individu akan merasakan dua
realitas yang berbeda yakni realitas subjektif dari dirinya dan realitas
objektif yang berada di luar dirinya. Kemudian ada tahap internalisasi, dimana
individu melakukan proses penarikan realitas sosial ke dalam dirinya. Ketiga
fase ini bersifat simultan yang berarti ada proses menarik keluar
(eksternalisasi) sehingga seolah-olah hal tersebut berada di luar (objektif)
dan ada juga proses penarikan kembali kedalam sehinga seolah-olah sesuatu yang
berada di luar tersebut seperti berada di dalam diri individu atau kenyataan
subjektif.
Dalam film ini Rara melihat
gambaran-gambaran tentang masyarakat disekitarnya, Rara melihat bagaimana
pandangan masyarakat terhadap orang (perempuan) yang gendut, berkulit gelap dan
pakaian yang tidak menarik. Rara sebagai individu memiliki pandangan subjektif
terhadap pandangan atau penilaian di luar dirinya (objektif). Namun seiring
berjalannya waktu dan proses interaksi yang dilakukan secara terus menerus
akhirnya nilai objektif dari luar dirinya dipertimbangkan oleh Rara, setelah
berinteraksi dengan lingkungan diluar dirinya nilai objektif tersebut akhirnya
dapat diterima oleh Rara dan dia menginternalisasikan nilai yang ada di
masyarakat tersebut kepada dirinya. Dilihat dari bagaimana Rara melakukan diet
untuk terlihat cantik sebagai sebuah ‘syarat’ agar bisa menjadi manajer riset
di perusahaan kosmetik tempat dia bekerja.
Perlu dicatat, bahwa individu
yang telah menginternalisasikan nilai-nilai masyarakat kolektif terhadap
dirinya akan melakukan proses eksternalisasi seperti sosialisasi terhadap
lingkungan diluar dirinya. Dalam film ini diperlihatkan saat bagaimana Rara berhasil
menurunkan berat badan dan merubah penampilannya menjadi lebih menarik, ternyata merubah pandangan Rara juga untuk menjaga kulitnya. Sehingga saat Dika mengajaknya pergi ke sekolah
tempatnya mengajar secara sukarela, dia lebih memilih untuk pergi menaiki taksi ketimbang
naik motor bersama Dika. Digambarkan bagaimana Rara melakukan proses sosialiasi
terhadap Dika dengan mengatakan serangkaian alasan demi menjaga kulit dan
penampilannya sebelum pergi ke sekolah tersebut.
Bagi individu yang telah
menginternalisasikan nilai-nilai masyarakat di dalam dirinya maka proses
sosialisasi ini akan dengan mudah dilakukan. Proses inilah yang nantinya akan
dilihat sebagai proses eksternalisasi, dimana nilai-nilai ini akan dilihat oleh
masyarakat lain. Hal inilah yang akhirnya menjadi sebuah realitas dalam
masyarakat sebagai sebuah hasil dari proses interaksi serta tindakan-tindakan
yang simultan dilakukan terhadap nilai-nilai yang berlaku. Perlu dicatat juga
bahwa Berger dan Humann dalam penjelesannya tentang konstruksi sosial ini
berangkat dari kajiannya tentang pandangan masyarakat terhadap realitas dan
pengetahuan yang berlaku di masyarakat, dari sinilah lalu Berger menjabarkan
bagaimana proses konstruksi sosial tersebut terjadi pada masyarakat.
Dalam Film Imperfect ini, begitu
terlihat bagaimana pandangan tentang perempuan yang cantik itu harus berkulit
cerah, kurus dan peduli akan pakaiannya dilanggengkan oleh masyarakat. Proses
konstruksi sosial ini terjadi dalam serangkaian waktu tertentu, namun melalui film
ini setidaknya kita dapat melihat bagaimana sesungguhnya proses penekanan
nilai-nilai yang ada dalam masyarakat seringkali menekan psikologis
indvidu. Proses dialektis antara nilai subjektif dalam diri individu dengan nilai
objektif yang berada diluar dirinya ini seringkali justru menjadi sebuah masalah menekan psikologis inidividu.
Perasaan Rara tentang dirinya yang
seolah-olah tidak pernah dimengerti oleh orang terdekatnya terjadi saat nilai
subjektif tersebut berinteraksi dengan nilai objektif yang ada. Sehingga pilihan
individu untuk ‘menyelamatkan’ dirinya dari pandangan objektif tersebut adalah
dengan menerima nilai objektif tersebut dan menginternalisasikannya terhadap
dirinya, menolaknya dengan tidak lagi mendengarkan nilai objektif tersebut bagi
dirinya, atau bahkan bisa mengambil langkah ekstrim dengan bunuh diri sebagai
bentuk tanda menyerah dengan nilai di masyarakat yang berbeda dengan bentuk kodrati
yang ada dalam dirinya. Hingga akhirnya saya hanya berharap semoga pandangan
orang lain terhadap perempuan bisa seperti pandangan Dika yang melihat
perempuan tidak hanya dari permukaannya saja, tapi dari dalam diri perempuan
tersebut. Dan ya, sepertinya dunia membutuhkan banyak Dika yang berani menentang
dan memiliki pandangan yang berbeda tentang perempuan dari masyarakat lainnya.
Komentar
Posting Komentar