Tidak Terasa

Di hari ahad ini, bersama langit yang cerah dan udara yang membawa hawa kenyaman untuk tidur di siang bolong. Di kecamatan Jatinangor, di tempat perantauan ini, di tempat yang jauh dari orang tua. Saya berpuasa. Puasa di bulan Ramadhan ini begitu spesial bagi saya. Bukan hanya karena segala amal kebaikan yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Tapi puasa tahun ini begitu spesial, karena sahur dan berbuka puasanya saya, tidak bersama keluarga. Kondisi ini baru pertama kali saya rasakan. Bahkan awal puasa (atau banyak yang menyebutnya munggahan) tidak saya lakukan bersama keluarga saya di rumah.

Kemudian tidak terasa, puasa ini sudah memasuki hari ke-14 Ramadhan. Begitu banyak target ibadah di bulan Ramadhan ini yang tidak terkawal dengan baik oleh saya hanya karena urusan kampus dan urusan duniawi lainnya. Bulan purnama yang begitu terang tadi malam, menjadi pengingat bagi saya tentang waktu yang berlalu dengan begitu cepatnya. Purnama itu seperti hanya sebatas mengucapkan "halo" dan seolah mempertanyakan saya mengenai amalan apa saja yang telah saya lakukan? Untuk selanjutnya akan digantikan dengan bulan tiga perempat lingkaran, setengah lingkaran, sampai bulan sabit dan kemudian berganti dengan bulan yang baru.

Saya (dan kawan-kawan saya) disibukkan dengan berbagai tugas kuliah dan segala persiapan untuk menghadapi ujian akhir semester pekan depan. Bodo amat dengan segala amalan ibadah. Perlombaan merengguh pahala di bulan ramadhan ini terasa begitu mudah jika melihat kebanyakan orang hanya sibuk dengan urusan duniawinya. Akan tetapi,

Target amalan yang ingin saya lakukan di bulan Ramadhan sekarang ini tidak begitu berbeda dengan tahun kemarin. Saya merasa tidak terlalu banyak merencakan target yang baru untuk bulan Ramadhan saat ini. Tapi, saya bersyukur karena beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, saya sudah melatih diri saya dengan melakukan puasa sunnah. Yang itu lumayan membuat diri saya terbiasa dengan puas ini.

Bulan ramadhan ini betul-betul banyak godaannya bagi saya. Mulai dari candaan kawan yang brengsek, segala aktivitas yang membuat saya lupa dengan amalan ibadah saya, sampai orang-orang yang tidak puasa karena alasan logisnya. Namun alhamdulillahnya, karena saya sudah terbiasa dengan mereka, godaan itu tidak terlalu berarti bagi saya (dengan tidak bermaksud riya).

Kalau dilihat tulisan saya di bulan Ramadhan tahun kemarin, di blog ini. Saya mencoba untuk konsisten menulis setiap hari. Yang walaupun gagal dan hanya sampai di sepuluh hari pertama (kalau ga salah). Dan bulan ramadhan saat ini, saya tidak memiliki target dan keinginan untuk melakukan itu. Entahlah, saya selalu merasa tidak dapat menyempatkan diri untuk menulis dengan fokus, yang saya sadari karena saya terkungkung dengan berbagai sistem dan segala kepadatan aktifitas yang ada.

Kehidupan di kampus. Apalagi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, selalu menuntut saya untuk terus belajar dan mengokohkan keimanan saya. Karena berbagai godaan, hasutan, dan segala pemikiran yang berkembang dan menyerang saya begitu kuat, seolah ingin merenggut saya dari keimanan saya. Namun dengan segala godaan tersebut, saya dapat merasakan sisi positifnya, dimana godaan segala pemikiran itu membuat saya menjadi ingin terus membaca dan belajar. Bagaimanapun cara dan kesempatannya.

Telah begitu banyak kajian dan pandangan-pandangan yang saya dengar, saya diskusikan, bahkan beberapa sempat saya tulis dalam file pribadi saya. Semuanya mengingatkan dan menyadarkan saya betapa kerdilnya diri ini, betapa bodohnya diri ini, betapa lemahnya diri ini dan tidak ada yang pantas di sombongkan dari diri ini. Ini semua merupakan bahan evaluasi bagi diri saya agar saya.

Yaaaa, sudah hampir dua semester saya di kampus ini. Bahkan saya sudah mempunyai adik angkatan, yaitu anak SMA yang lolos masuk universitas lewat jalur SNMPTN. Ahhh, betapa waktu ini. Seringkali terasa tidak terasa. Bahkan, untuk merasakannya pun terkadang membuat kita berpikir untuk lebih baik tidak merasakannya. Karenanya kita sering mengisi waktu yang terus berjalan ini dengan berbagai kegiatan yang membuat waktu kita begitu bermakna (menurut kita). 

Di pertengahan bulan ini. Saya masih berusaha untuk merasakan, mengingat dan bersyukur akan nikmat Allah. Karena selain waktu, terkadang nikmat Allah pun seringkali tidak terasa karena ketidak terhinggaannya, yang akhirnya membuat kita jadi lupa untuk bersyukur. Yaah, begitulah manusia, dengan segala yang dilakukan dirinya. Terkadang lupa untuk bersyukur dan selalu perlu diingatkan tentang apa yang perlu disyukuri oleh dirinya. Biar yang tak terasa ini, bisa menjadi lebih bermakna dan mendapatkan berkah-Nya. Yang tentunya, itu akan lebih bisa kita rasakan nantinya.

Jatinangor, selepas shalat ashar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.