Akademisi yang Tidak Peduli

Di sebuah ruang kelas, tersebutlah beberapa mahasiswa yang sedang mendiskusikan mengenai tugas kuliah mereka untuk mengabdi ke desa. Kelas itu diisi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan prodi yang ada di kampus. Karena kampus tersebut memiliki program kuliah bersama. Dimana mahasiswa dari fakultas dan prodi yang berbeda dikumpulkan di dalam satu kelas dan belajar bersama dengan mata kuliah yang sama.

“Baiklah, jadi jum’at depan kita mau ngapain ke desa?” Tanya ketua mahasiswa di kelas tersebut, yang katanya ingin ikut akmil tahun depan.

“Mmh, ngapain ya?” Kata seorang mahasiswi cantik dari fakultas hukum.

“Sebelum bertanya begitu, mungkin lebih baik kalau kita laporan dulu hasil observasi di desa yang kemarin. Biar bisa kita analisis masalahnya dan bisa nentuin mau ngapain aja disana.” Saran dari seseorang yang diketahui adalah mahasiswa dari prodi sosiologi.

“Idih, sok ide banget kamu.” Kata mahasiswa fakultas kedokteran yang ingin cepat-cepat pulang ke asramanya.

“Tapi ada benarnya juga sih. Ayo, setiap kelompok laporkan hasil observasinya kemarin.” Kata ketua mahasiswa memberikan instruksi.

“Yahhhh.” Sahut mahasiswa lain yang menyesal, namun mau tak mau harus patuh. Biar cepat selesai dan bisa pulang.

“Ayo, mau siapa dulu nih.” Tanya ketua mahasiswa kelas tersebut.

“Yaudah, saya dulu deh.” Mahasiswa dari prodi sosiologi ini memang sedikit sombong dan ke-pedean. Jadi mohon dimaafkan.

Beberapa menit berlalu, mahasiswa prodi sosiologi tersebut selesai memberikan laporannya. Kemudian dilanjutkan oleh perwakilan dari setiap kelompok yang lain. Kelas tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, karena RW di desa yang mereka observasi memiliki empat RT. Mereka mengbosevasi RT 01 sampai RT 03, sedangkan RT 04 di observasi oleh kakak tingkat yang ingin KKN di desa yang sama.

“Nah, laporan dari setiap kelompok sudah selesai. Sekarang apa yang mau kita lakukan saat ke desa Jum’at depan?” Tanya ketua mahasiswa yang entah sangat demokratis atau bingung, selalu menanyakan pendapat kepada teman-temannya.

“Eh, memang kita harus ke desa lagi ya?” Kata mahasiswi fakultas hukum, yang terlihat begitu terawat kulitnya.

“Iya, kata bapak dosennya kita harus ke desa lagi.” Jawab ketua mahasiswa yang wajahnya sedikit kurang terawat jika dibandingkan dengan mahasiswi hukum tadi.

“Eh kita  kan masih punya hutang untuk sensus warga desa.” Sanggah mahasiswa dari fakultas peternakan, yang saat awal pergi ke desa dialah yang mewakili kelas tersebut untuk survey ke RW di desa yang ingin diteliti.

Bapak RW di daerah mereka teliti meminta bantuan kepada mahasiswa di kelas belajar bersama itu untuk menyensus jumlah warga yang ada di RW tersebut. Dan itu belum dilaksanakan.

“Oh iya, kita belum menyensus. Kalau begitu Jum’at depan kita sensus aja kali ya.” Kata ketua mahasiswa yang kali ini memberikan tawaran.

“Iya deh.” Kata seluruh mahasiswa dengan tidak serempak.

“Udah ya, ngebahas ini doang kan? Udah boleh pulang nih sekarang?” Kata mahasiswa dari fakultas kedokteran yang kelihatan lelah.

“Eh beluum, Jumat depannya lagi kita mau di kelas apa ke desa lagi?” Tanya ketua mahasiswa yang bingung dengan kedemokratisannya.

“Dikelaaas.” Jawab seluruh mahasiswa walau tidak serempak, karena mahasiswa dari prodi teknik informatika  sedang sibuk memainkan smartphonenya. Mungkin sedang mengkoding sesuatu atau mungkin juga sedang tidak memedulikan sesuatu. Begitu juga dengan mahasiswa dari prodi lainnya.

“Oke dikelas, tapi kata bapak dosennya kita perlu ke desa biar tugas dari mata kuliah ini cepat selesai.” Kata ketua mahasiswa dengan labil.

“Memang kita perlu berapa kali ke desa sih?” Tanya mahasiswa dari prodi administrasi publik yang hobinya pulang lebih awal.

“Terserah kita sih, yang penting pengabdiannya ada buat masyarakat.” Kata ketua mahasiswa kelas tersebut.

“Ohh yaudah ke desa aja, biar cepet selesai nih tugas.” Sambung mahasiswa prodi administrasi publik tadi.

“Oh yaudah, jadi kita ke desa terus aja nih ya?” Ketua mahasiswa hampir menetapkan keputusan.

“Eh tunggu dulu, baiknya kita di kelas dulu ga sih? Biar kita bisa ngobrol sama dosen sambil minta saran tentang hasil observasi kita dan bertanya tentang bagaimana menyusun program pengabdian ke desa yang baik?” Kata mahasiswa dari prodi sosiologi yang memang sangat tertarik dengan perilaku warga di desa yang ditelitinya.

“Ih apaansi kamu, lama lagi tau. Emang kamu mau ngapain aja di kelas?” Kata mahasiswi dari fakultas hukum yang terlihat memang kurang semangat di mata kuliah mengabdi ke desa ini. Jadi inginnya yang penting beres.

“Lah emang kita mau ngapain aja ke desa?” Tanya balik mahasiswa dari prodi sosiologi kepada mahasiswi fakultas hukum tadi.

“Seperti hasil laporan dari kelompok yang mengobservasi RT 01. Kita bisa main voli, bisa juga ikutan senam.” Ketua mahasiswa yang malah menjawab.

“Memang warganya pada bisa? Jadwal kuliah kita ini kan jum’at sore. Memangnya warga pada bisa kumpul jum’at sore buat main voli?” Tanya mahasiswa prodi sosiologi sedikit geram.

“Ya, bisa aja sih, soalnya kan sore itu jam pulang sekolah buat anak-anak. Ibu dan bapak warganya juga pasti udah pulang kerja, jadi mungkin bisa olahraa bersama warga. Tapi kalau ga memungkinkan juga, gimana kalau kita mengabdinya sabtu aja?” Usul dari ketua mahasiswa.

“Ih gamauuuu.” Monyong mahasiswi dari fakultas hukum.

“Ih mohon maaf pak, saya sibuk.” Kata mahasiswa fakultas kedokteran berusaha se"sopan" mungkin.

“Apaansih, kan jadwal kita di hari jum’at, bukan sabtu.” Kata mahasiswa dari prodi administrasi publik.

“Saya mah ikut-ikut aja deh.” Kata mahasiswa dari prodi teknik informatika yang pandangannya terus melihat smartphone. Entah dia ngomong ke smartphone-nya atau ke forum.

Banyak lagi suara penolakan dari mahasiswa lain yang saking banyaknya tidak jelas bentuk suara yang dikeluarkannya.

“Tapi iya juga sih, kalau merasa lebih efektif untuk bertemu masyarakat saat hari libur. Ya, lebih baik di hari libur.” Kata mahasiswa dari prodi sosiologi yang sok ide.

“Ih apaansih, sok ide banget dah kamu (benar kan dibilang sok ide). Aku kalau sabtu ke Bandung soalnya. Maaf-maaf aja ya. Aku ga bisa ikut kalau sabtu” Kata mahasiswi dari fakultas hukum.

Dengan segala kegundahannya, mahasiswa dari prodi sosiologi merasa heran. Mengapa mahasiswa dari kampus tersebut begitu apatis? Seolah tidak ingin diajak kerjasama untuk mengabdi kepada warga desa yang berada di sekitar kampus. Bahkan mengorbankan waktunya pun tidak ingin. Pantas saja, kondisi warga di sekitar kampus tersebut tidak terlihat membaik dengan berdirinya kampus. Justru warga mengeluhkan terjadi berbagai macam masalah karena banyaknya pendatang dan tumbuhnya kost-kostan di daerah mereka.

“Eh sebetulnya kalian tuh buat apa sih kuliah? Kalian ga liat apa kondisi warga di sekitaran kampus ini. Begitu banyak masalah yang meraka hadapi. Dengan adanya kampus ini ternyata tidak menjawab permasalah dari warga di sekitar kampus ini. Sebetulnya kampus ini tuh buat apa didirikan? Jika warga sekitarnya saja tidak merasakan dampak baiknya. Saya sebetulnya sempat bertanya-bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Ternyata, jawabannya karena mahasiswa di kampus ini begitu egois dan apatis.

Kamu dari mahasiswa dari fakultas hukum. Buat apa kamu kuliah kalau bukan untuk masyarakat?” Celoteh mahasiswa prodi sosiologi yang ingin tahu tujuan kuliah dari mahasiswi hukum yang cantik itu.

“Kalau aku sih ingin jadi lawyers, dan maaf aku masih banyak tugas yang perlu dikerjakan. Makanya tidak bisa ikut mengabdi ke desa kalau di hari lain selain hari jum’at.” Kata mahasiswi dari fakultas hukum yang dengan segala kecantikannya begitu terlihat egois.

Kira-kira seperti itu pula pandangan mahasiswa dari prodi lain, yang dengan alasan banyaknya tugas dari prodi mereka. Merasa tidak penting untuk meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Semuanya terlihat begitu apatis saat ada di mata kuliah pengabdian ini. Waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB dan sebagian dari kumpulan mahasiswa itu sudah menanyakan kapan pulang kepada ketua mahasiswanya.

Masukan dari mahasiswa prodi sosiologi tersebut tidak ditanggapi, dan mereka tetap pada keinginan untuk setiap jum’at pergi ke desa. Dengan tidak tahu mau ngapain. Mahasiswa dari prodi sosiologi itu pun menyesalinya.

Namun dia puas, karena dia tahu mengapa pembangunan desa di sekitar kampus itu tidak baik. Padahal begitu banyak akademisi yang semestinya mampu membantu warga sekitar untuk maju. Alasannya adalah, karena mahasiswanya begitu banyak yang apatis, egois dan sok sibuk. Hanya peduli pada cita-cita pribadi mereka. Tidak peduli jika mereka menetap di kostan yang dibangun di atas bekas perkebunan warga. Bahkan, tidak peduli jika yang memiliki kost-an itu warga sekitar atau pendatang dengan modal.

Sikap apatis ini semestinya tidak dimiliki oleh seorang akademisi. Karena bagaimanapun juga, seorang yang terpelajar, yang terdidik, yang dengan uang rakyat mereka bisa kuliah. Harus mampu untuk mengabdi pada masyarakat, atau minimalnya memikirkan dan peduli akan kemajuan warga di sekitar kampusnya.

Mahasiswa dari prodi sosioogi itu pun terdiam. Sedikit mengerti mengapa permasalahan warga di sekitar kampusnya begitu kompleks. Ia teringat orang yang mabuk di depan kampusnya, yang padahal itu diwaktu sore hari dan masih banyak warga yang berlalu-lalang. Ia juga teringat kasus pembegalan disekitar kampusnya, yang ternyata pelakunya adalah warga sekitar. Tata letak kota yang acak-acakan. Sampai kemacetan, yang menurut dugaannya disebabkan banyaknya pendatang yang mahasiswa.

Mahasiswa prodi sosiologi tersbut kecewa pada dirinya sendiri, karena dia hanya bisa berbicara di dalam kelas dan gagal melakukan sesuatu untuk warga sekitar kampusnya. Ia lelah, melihat masalah yang tidak di pedulikan oleh teman-temannya.

Akademisi, yang KBBI mengartikannya sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Tidak pantas untuk tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.