Sadar Akan Kembali

Tak terasa sudah kurang lebih empat bulan saya di Jatinangor. Kecamatan yang penuh dengan mahasiswa dan truk-truk besar. Dengan segala debu dan cuacanya yang aneh. Sampai tata letak bangunannya yang semrawut. Selalu ada hikmah yang berusaha saya ambil dari berbagai masalah yang ada di Jatinangor. Salah satunya adalah sadar akan kembali.

Hari pertama saya di Jatinangor dan mendapatkan kamar asrama yang di fasilitasi oleh negara. Saya merasa perlu membeli dan mempunyai semua barang kebutuhan hidup. Mulai dari dispenser, kulkas, sampai dispenser dalam kulkas. Yang saya sadari, ternyata itu tidak penting-penting amat dan akan merepotkan saat pulang nanti. Bahkan, hadir pemikiran dalam otak saya.

“Inget zka, lu ga selamanya disini. Nanti juga lu pergi lagi. Jangan sampai pas lu pulang nanti lu terbebani buat bawa begitu banyak barang dan merepotkan diri lu.”

Kamudian saya bertanya-tanya. Terus apa yang bisa saya bawa untuk pulang nanti? Sesuatu yang tidak berat dan tidak akan merepotkan saya.

Akhirnya, setelah melakukan riset mendalam dan berbincang dengan pemimpin dari dua puluh negara sampai bertapa di atas puncak gunung jaya wijaya (lebay amat yak). Saya menemukan jawabannya, yaitu ilmu. Sesuatu yang ringan, namun dampaknya bisa sangat menakjubkan.

Saya harus bisa membawa ilmu yang cukup dan mumpuni agar bisa bermanfaat bagi orang banyak. Karena sebagai mahasiswa, saya memiliki tanggung jawab besar dan selalu dinantikan kebermanfaatannya dalam masyarakat.

Perasaan saya mengenai sikap untuk kembali. Berujung pada pemikiran pulang ke tempat yang lebih jauh. Yaitu pulang ke alam akhirat, karena saya sadar, kesanalah seluruh manusia akan kembali. Kata kembali ini menjadi sebuah kata yang cukup menyentil untuk menyadarkan manusia. Karena seluruh ciptaan Tuhan berasal dari sana dan akan kembali kesana. Disana pulalah keabadian yang sesungguhnya hadir.

Percayalah, sifat yakin akan kembali ke alam akhirat ini. Sangat membantu kita dalam menjalani hidup. Kita menjadi merasa cukup, bersyukur dan semangat menjalani hidup. Karena kita sadar, bahwa yang kita lakukan di dunia ini merupakan ajang mengumpulkan bekal untuk akhirat nanti.

Sendainya kesadaran untuk kembali hadir dalam jiwa setiap ummat manusia di dunia ini. Saya yakin, tidak akan ada koruptor, tidak akan ada juga manusia yang menyia-nyiakan waktunya dengan berbuat kriminal. Semua hal yang tidak bermanfaat dan merugikan orang lain. Pasti akan dihindari dan dijauhi. Dan juga bisa mengurangi pekerjaan polisi. Seandainya.

Saya tersadar bahwa seluruh materi duniawi yang kita punya tidak akan bisa dibawa ke akhirat nanti. Perjalanan ini, perantauan ini, menyadarkan saya. Bahwa saya harus menyiapkan sesuatu yang lebih berarti dari sekedar materi duniawi. Yaitu ilmu dan amal.

Bogor. Tempat pulang yang tidak selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.