Jurusan Sosiologi tuh belajar apa sih...?
Saya kesal dengan orang yang suka meremehkan jurusan kuliah. Sebagai mahasiswa sosiologi, Saya sering mendapat pertanyaan dengan nada meremehkan. Kuliah sosiologi itu belajar apa sih? Belajar tentang masyarakat ya? Terus nanti kerjanya apa? Kalau udah kerja gajinya gede ga? Masa depannya suram ya kuliah di jurusan sosiologi itu?
Dan segala pertanyaan soal kuliah yang selalu dihubung-hubungkan dengan kerja selepas lulus nanti.
Dulu mungkin pertanyaan itu hanya
disampaikan pada beberapa kesempatan. Seperti saat Saya memilih jurusan
kuliah waktu di SMA. Tapi sekarang, pertanyaan tentang jurusan kuliah itu sudah tidak lagi mengenal ruang dan waktu.
Pernah suatu hari, saat Saya
sedang beli ketoprak bersama teman dari jurusan teknologi informatika. Kemampuan
Saya untuk menjelaskan jurusan Sosiologi kepada orang lain, diuji. Kami berdua
membeli dua bungkus ketoprak.
Saat ketopraknya sudah jadi dan Saya
membayar dengan uang 50.000, Mamang penjual ketoprak menghitung.
“Kalau dua jadi 22 ribu, berarti
kembaliannya?” Si Bapak mikir, saya mikir, teman saya menjawab,
“28 ribu Mang.” Sambil tersenyum dengan tatapan meremehkan, melihat Saya.
“Masa lu gitu doang ga bisa sih Ska, lu di jurusan sosiologi siiih.”
Lah, apa urusannya sama jurusan
Saya! Saya emang lagi males mikir aja. Dan tidak mengira kalau akan ada kuis
dadakan seperti itu. Atau jangan-jangan mamang ketoprak itu adalah dosen Saya
yang suka memberi kuis dadakan. Sungguh mengerikan.
Masuk kuliah dengan jurusan yang
kurang peminatnya memang menjadi tantangan tersendiri bagi Saya. Masyarakat
yang melihat kuliah sebagai langkah untuk mendapatkan kerja yang bagus, selalu
menyangsingkan jurusan yang dinilai tidak profitable, seperti jurusan sosiologi.
Jurusan sosiologi sering dipandang rendah karena tidak banyak yang tahu
lulusannya seperti apa.
Tidak seperti mereka yang kuliah
di jurusan Teknologi Informatika, masyarakat tahu kalau lulusan dari
jurusan itu akan bekerja menggunakan komputer (biasanya hanya sebatas
itu yang diketahui oleh masyarakat luas). Contoh lain, jurusan manajemen bisnis
yang sering dilihat sebagai calon pengusaha sukses. Jurusan matematika, jurusan
biologi, pokonya jurusan yang jelas penerapannya seperti apa. Dipandang baik dan keren
oleh masyarakat luas. Sementara jurusan sosiologi? Paling hanya menjadi guru
IPS atau Sosiologi di SMA, bahkan mungkin menjadi tukang demo yang selalu kontra dengan pemerintah. Begitu kira-kira pandangan yang beredar di
masyarakat.
Setelah Mamang ketoprak diberitahu hasil pengurangan dari 50-22=28. Dia mengeluarkan uang 28 ribu dan
memberikannya kepada teman saya.
“Loh itu kan tadi uang Saya Mang,
kenapa malah dikasihinnya ke teman Saya?” Heran.
“Oh maaf A, ini bukan kembalian
dari ketoprak tadi. Tapi hadiah karena udah menjawab pertanyaan Saya tadi,
hehe.” Mamang ketoprak tersenyum.
Dunia tidak berpihak pada saya. Atau
lebih tepatnya, Mamang ketoprak tidak berpihak pada Saya.
Kemudian dengan bangganya teman Saya
memberikan uang kembalian itu pada Saya.
“Nih buat lu, kasian gua.” Hei, Itu
uang Saya!
Jurusan sosiologi yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, menurut Saya bukan karena masyarakat belum paham
tentang hal yang dikaji oleh sosiologi. Tapi sebagai dampak dari pembedaan yang
sudah dilakukan sejak lama di dunia pendidikan Indonesia. Bisa terlihat jelas
saat pembagian jurusan di SMA, antara jurusan IPA dan IPS, atau ada juga
sekolah yang memiliki jurusan Bahasa atau Agama yang berdampak pada kebanggaan siswa kepada jurusan yang dia belajar di dalamnya. Selain di SMA, bisa kita lihat
juga di Sekolah Dasar, siswa yang memiliki nilai bagus di mata pelajaran matematika dan
ilmu alam, biasanya selalu dipuji-puji dan diagung-agungkan oleh Guru. Mereka
disebut sebagai murid yang cerdas, pintar dan berprestasi.
Di perjalanan menuju kampus kami
membicarakan studi yang dikaji dalam jurusan Kami. Dia belajar apa di jurusan
kuliahnya. Saya belajar apa di jurusan kuliah saya. Saya sudah duga, tendensi
untuk meremehkan, pasti selalu ada. Baik dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan.
“Eh emang jurusan sosiologi tuh
belajar apa sih?” Pertanyaan yang Saya sudah malas menjawabnya.
“Sosiologi itu simpelnya ilmu
yang mempelajari interaksi masyarakat.” Saya jawab simpel.
“Ohhh, terus nanti kerjanya apa?”
Pertanyaan kedua.
“Bisa jadi peneliti, pengajar,
konsultan pembangunan, pokonya luas deh.” Jawab Saya santai.
“Tapi kan yang dibutuhin negara
sekarang tuh mereka yang ahli di bidang teknologi Ska.” Pertanyaan ketiga. Pertanyaan
satu sampai ketiga ini, memiliki kecenderungan yang sama, yaitu. Meremehkan. Padahal
kan bisa dia searching di internet semua pertanyaannya itu.
“Iya, Indonesia ini memang terlalu
fokus pada hal-hal yang mendorong pembangunan infrastruktur, sampai sering lupa
mengkaji dampak pembangunan tersebut pada masyarakat luas. Saat para ahli
teknologi dan pemerintah melupakan itu, sosiolog hadir untuk mengkajinya.”
Lumayan panjang Saya jawab.
“Oooooh, tuh ada pengemis Ska. Itu
ko ga Lu kasih?” Tanya dia menantang.
Dengan niat untuk menyombongkan
diri. Dan juga menunjukkan kalau Saya ini memiliki empati tinggi. Saya mengeluarkan
uang dua ribu rupiah dari saku celana. Menjulurkannya pada Bapak-bapak pengemis
di pinggiran gang. Menaruh uang tersebut ke baskom yang dipegang oleh Bapak
pengemis. Sambil tersenyum bangga. Saya membalikkan badan ke arah teman Saya.
Ya Allah, sombong itu nikmat sekali.
Teman Saya tercengang. Hampir dia
bertepuk tangan, namun mengurungkannya. Karena sadar itu bukan acara konser
yang diadakan oleh BEM Kampus.
“Terimakasih A, kata si Bapak.”
“Iya pak sama-sama, semoga berkah
ya Pak uangnya.” Jawab Saya sambil berjalan.
“Terimakasih A, semoga Aa dikasih
keberkahan dan jadi orang yang sukses.” Si Bapak berdoa.
Belum jauh Saya berjalan.
“Aamiiin.” Sambil tetap merasa
bangga.
Kemudian kami melanjutkan
perjalanan.
“Gila keren banget emang lu Ska,
sampe ngasih uang dua puluh ribu gitu ke pengemis.”
What? Dua puluh ribu? Perasaan Saya
dua ribu deh uangnya. Saya langsung mengecek saku celana. Uang dua puluh ribu
kembalian beli ketoprak tadi tidak ada. Sial.
Pengen balik lagi mengambil
uangnya ke si Bapak tapi malu. Ga enak juga sama teman Saya. Ah, sudahlah. Inikah karma
dari bersikap sombong? Maafkan Aku ya Allah...
“Eh Dua puluh ribu ya? Eh.., iya
dong. Satu sikap yang harus ada pada seorang sosiolog itu. Empati.” Dengan
intonasi seperti motivator kondang di atas panggung. Namun hati sedih seperti
anak yang kehilangan balonnya. Ingin menangis.
Kemudian setelah masuk gerbang
kampus. Kami berpisah. Dia pergi ke fakultasnya. Saya pergi ke fakultas dia
juga. Buat ngebakar itu fakultas. Biar teman sombong seperti dia tidak ada lagi di muka
bumi ini. Astaghfirullah.
Pulang dari kampus. Di perjalanan,
Saya mampir ke warung dan bertemu dengan teman se-SMA Saya. Kebetulan kuliah di
kampus yang sama namun dengan jurusan yang berbeda (baca: jurusan yang
berbeda). Kebetulannya lagi, kost-an kami masih satu gang. Sungguh penuh dengan
berbagai kebetulan dunia ini. Saya memesan kopi sachet ke penjaga
warung. Kemudian menyapa teman Saya.
“Hei apa kabar? lama ga ketemu ya kita.”
“Eh Ska, baik Alhamdulillah. Baru
ketemu lagi ya kita.”
“Iya nih, terakhir kita ketemuan
pas perpisahan SMA doang ya.”
“Iya Ska. Eh Lu jurusan apa dah
Ska, Gua ko gatau ya?” Tanya dia penasaran
Saya memandang wajah dia. Berusaha
mencari tahu maksud dari pertanyaan itu. Apakah dia akan menjadikan itu bahan
untuk meremehkan Saya? Atau hanya sekedar basa-basi?
Kemudian dengan penuh curiga. Saya
mengobservasi, seandainya dia meremehkan Saya dan berlaku sombong. Dia ingin
membuat kagum siapa? Sombong pada siapa? Jalanan sepi. Tidak ada tanda-tanda
orang akan keluar dari rumah. Tapi, ada Ibu warung. Pasti teman Saya ini ingin
menyombongkan diri ke Ibu warung. Saya perlu hati-hati.
“Gua jurusan sosiologi. Kalau Lu
jurusannya apa?” Jawab Saya sambil tersenyum. Sengaja Saya bertanya balik. Biar
dia tidak punya kesempatan untuk membuat argumen yang meremehkan Saya. Dan kebetulan
juga, setelah perpisahan SMA waktu itu, dia belum memberi tahu ingin kuliah
dimana. Dan ternyata di lulus tes untuk kuliah di kampus yang sama dengan Saya.
Kebetulan yang lain.
“Ohh Sosiologi. Kalau gua
jurusan kedokteran.” Waw, jurusan idola para calon mertua.
“Eh, kalau boleh tahu jurusan
sosiologi tuh belajar apa sih Ska?” Tanya dia tanpa basa basi. Tapi sangat basi
bagi Saya.
Karena Saya sudah sering
menghadapi pertanyaan ini. Saya menemukan beberapa cara untuk menjawabnya.
Pertama, jelaskan definisi sosiologi
secara bahasa dan istilah, ini biasanya kalau saya lagi punya waktu 1 x 24 jam
dan tidak terburu-buru.
Kedua, kasih tuh orang buku
sosiologi, kemudian pergi dengan elegan, mengibaskan rambut dan berkata, “Selamat
mencari tahu, bodoh.” Biasanya ini tidak Saya lakukan karena Saya ga punya stok
buku yang banyak.
Ketiga, menjawab dengan
meremehkan balik si penanya, “Loh, lu ga tahu sosiologi belajar tentang apa?
Cih, bodoh banget.” Cara ini dipakai kalau kita ingin hidup sendirian di muka
bumi.
Terakhir, kalau ga mau ngejawab
pertanyaan itu, kita bisa pura-pura sakit, “Eh sori, tadi lu nanya apa? Gua ga
denger nih. Aduh gua lagi sakit perut, udah ya gua duluan, bye.” Dan pergi
dengan memegang perut yang sehat wal-afiat. Perlu dicatat, cara ini diperlukan
kemampuan akting yang baik, Saya sarankan untuk banyak-banyak latihan. Dan jangan
lupa belajar berbohong.
“Sosiologi itu simpelnya belajar
tentang interaksi masyarakat.” Jawab Saya tersenyum. Memilih pilihan menjawab
opsi pertama dengan versi pendek. Kemudian menatap teman Saya. Melihat penjaga
warung. Khawatir dia adalah Mamang ketoprak yang ingin memberikan kuis lagi.
Saya memberikan uang pas pada
penjaga warung. Sengaja agar tidak ada kembalian dan muncul pertanyaan
hitung-hitungan. Mengucapkan terimakasih. Berpamitan dengan teman Saya. Pergi. Ternyata
melarikan diri adalah cara terbaik dan tidak bertanggung jawab untuk lepas dari
pertanyaan tentang jurusan Saya. Hahaha
Banyak lagi cerita yang
konteksnya adalah mempertanyakan, meragukan bahkan merendahkan jurusan kuliah
yang Saya ambil. Yang akhirnya membuat Saya menjadi lebih kebal, tabah dan
kadang jadi bingung sendiri.
“Nih orang-orang kaga punya
internet apa ya? Kenapa nanyanya selalu ke Guaa?”
Sambil berjalan menuju kost-an,
Saya merefleksikan diri. “Kenapa disparitas antar jurusan kuliah di rumpun Ilmu
sosial dan Ilmu alam itu terjadi di Indonesia ya?” Atau mungkin ini seperti
kata orang. Negara berkembang sangat suka sekali dengan berbagai macam hal
berbau teknologi. Biar bisa setara dengan negara maju yang memiliki teknologi
canggih.
Begitulah negara berkembang yang selalu berkiblat pada negara-negara maju. Hingga indikator kemajuan yang dibuat pun berpatokan pada negara-negara maju tersebut. Karenanya negara berkembang sangat senang meniru negara maju, terutama soal kemajuan teknologi. Hubungan antara negara berkembangan dengan negara maju itu, sebetulnya dapat dikaji dalam sosiologi. Dan masyarakat di negara maju tidak memandang sebelah mata kajian sosiologi, mereka menghargai kajian sosiologi. Tapi, kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu...?
Entahlah. Saya hanya bisa berharap di dunia ini tidak
ada lagi yang meremehkan ilmu yang dia tidak memahaminya. Semoga.
Saya adalah salah satu peminat sesuatu yang berjudul Sosiologi. Jangan merasa sendiri :)
BalasHapusTerkadang juga, ilmu Sosial ini sulit dijelaskan secara teks, ketika saya mengeluarkan pendapat saya yang bersifat Empiris. Ini sangat sulit ketika saya mendapatkan pertanyaan yang Logis padahal pendapat saya bisa dikatakan 50% benar. Bingung juga T_T ditambah ada pernyataan dalam benak saya kalau yang saya lakukan itu sebenarnya adalah "Sesat Pikir"
BalasHapus