Postingan

Jenguk

Sepuluh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah Disepuluh hari pertama ini. Saya mensyukuri nikmatnya sehat. Karena tadi siang sebelum jum'atan di laksanakan, saya menjenguk teman di rumah sakit. Betapa bersyukurnya saya diberi nikmat sehat ini. Dan satu hal yang terpikirkan hari ini adalah. Doa. Karena itu yang diingatkan oleh penceramah sebelum tarawih tadi. 21:30 ngetik di hape

Pura-pura Rindu.

Sembilan Ramadhan Sertibu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari ini saya teringat postingan di Instagram. Yang di post oleh teman saya kemarin, di postingan itu ada tulisan... Tentang ramadhan benar-benar rindu Atau pura-pura rindu. Saya jadi berpikir disitu. Saya benar-benar rindu atau Cuma pura-pura ya. Teman saya tidak menjelaskan sih bagaimana pura-pura rindu itu. Saya juga ga nanya. Jadi aja saya ga tau makna dari kepura-puraan itu. Cuma yang bisa saya sedikit pelajari dan boleh saya analogikan. Jika kita rindu ke temen lama, Cuma rindunya teh ga bener-bener rindu. Karena kita ga deket sama si temen lama itu, kalau di kelas kaya bukan gengan kita dia tuh jadi kita ga tau banyak tentang dia. Nah, dalam suatu kesempatan ada sebuah acara reuni atau buka bersama teman kelasan dulu. Tapi yang pertama datang itu kita dan teman kita yang ga deket itu. Dan kalau saya, mungkin lama kelamaan akan cape ngobrol dengan dia. Karena salah satu alasan kita ga deket...

Menertawakan Hidup

Delapan Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari rabu yang tanggal 23 mei 2018. Ga ada kerjaan menjadikan saya sedikit sulit untuk mengingat hari dan tanggal. Bahkan, tadi aja saya harus lihat kalender dulu buat tau ini hari apa. Tapi karena saya juga ga tahu harus liat kalendernya di tanggal berapa. Jadi weh saya inget sama sumbangan buat buka puasa di mesjid. Ga nyambungkan? Biarin, soalnya bapak saya emang kebagian ngasih sumbangan di hari rabu. Di hari ini saya hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Membeli gelas plastik. Sampai membaca buku di gelas plastik (yang terakhir boong deng). Tadi juga saya sempat bervideo callan. Bukan karena kangen tapi karena ngomongin bisnis. Sok iye banget ya. Oh iya, ada satu hal yang menginspirasi saya untuk terus menulis di hari ini. Bukunya raditya dika. Saya udah bilang di postingan sebelumnya. Kalau saya lagi baca buku raditya dika. Cuma saya baru menyadari betapa serunya menulis hari ini. Say...

Baca Buku aja?

Tujuh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hirjiah Hari ketujuh. Sudah seminggu saya berada di bulan Ramadhan ini. Bersyukur karena masih sanggup dan mampu puasa hari ini. Hari ini saya sedikit rada stres. Karena ketawa-ketawa sendiri pas baca bukunya Raditya Dika. Ya mungkin begitulah kalau ada orang yang ngeliat saya ketawa sendirian. Atau mungkin mereka iri. Begitulah hari ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku. Dan tidak lupa bahagia. Sampai tadi penceramah shalat tarawihnya bilang. “Tolong kalau ibu dan bapak melihat saya di api neraka, selamatkan saya. Dan katakan pada Allah bahwa saya pernah kultum di tempat ini. Karena begitulah resiko seorang yang berilmu, dan berbeda derajatnya dengan orang yang tidak berilmu.” Setelah mendengar kata-kata itu. Saya jadi mikir. Nanti yang nyelametin gua di akhirat siapa ya? 22:06 dimalam yang tadi abis makan ager.

Film Alif Lam Mim

Enam Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan. Sudah enam hari bulan ramadhan ini berjalan. Di hari ini saya menonton film Alif Lam Mim di youtube. Film ini menceritakan negara Indonesia pada tahun 2026. Atau lebih ya, saya lupa. Pokonya menceritakan Indonesia di masa depan. Diceritakan dalam film itu bahwa Indonesia menjadi negara yang liberal. Sangat sentimen bahkan benci terhadap agama. Mulai dari yang bersorban. Ya, hanya bersorban. Di film ini menceritakan bagaimana negara Indonesia begitu takut dengan agama. Dikhususkan Islam. Para penguasanya ingin membuat negeri yang damai, namun tidak dengan agama. Yah, sebetulnya cerita ini saya pikir bisa terjadi di Indonesia. Seandainya, memang negara ini ada “revolusi” seperti yag terjadi di dalam film itu. Namun bagaimanapun, itu hanyalah film. Saya menoontonnya untuk mengambil pelajarannya dan membuang yang tidak ada manfaatnya. Cerita selengkapnya seperti apa silahkan tonton sendiri. Saya bukanlah oran...

Sepi.

Lima Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah. Mulai terasa lelah puasa hari ini. Ditambah hujan yang selalu mengguyur kota setiap sorenya. Seakan anomali dengan bulan Ramadhan yang panas. Kalau tidak salah begitu artinya. Dan malam ini, selepas tadarus Al-Qur’an bersama di masjid. Yang membacanya juz lima. Saya merasa dingin. Karena yang bertadarus di masjid jumlahnya tidak lebih dari jari di satu tangan.  Yah, begitulah. Kondisi cuaca yang seperti ini memang enaknya beristirahat. Bukan beribadah. Jumlah shaff di shalat Tarawih juga mulai berkurang. Tadi saya lihat hanya bersisa dua shaff. Ahh, mungkin karena hujan. Tapi begitulah Kota Bogor. Yang televisi di siarkan bahwa Bendung Katulampa Siaga 3. Dan kemenag merekomendasikan 200 mubaligh. Yah, saya hanya ingin bersyukur bisa merasakan nikmat seperti ini.  Tetap ingin konsisten untuk menulis. Semoga mampu. 22:18 yang abis makan kripik.

Tulisan Buat Kemarin

Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Saya telat upload untuk tanggal Tiga Ramadhan. Karena kehabisan kuota yang belum sempat ada kemarin. Ternyata segala rencana yang kita usahakan untuk berhasil pasti saja ada gangguan. Walaupun itu hanya kehabisan kuota. Dan sekarang sudah masuk tanggal Empat Ramadhan. Yang berarti tulisan ini untuk kemarin, Mau bagaimanapun hari ini adalah hari ini. Dan kemarin saya kembali berjualan dengan teman-teman saya. Ga tau untung apa enggaknya. Dan kuliah shubuh kemarin. Pa Haji mengingatkan jamaahnya. Bahwa sakit dan kematian adalah hal yang datang secara tak terduga. 14:06 di hari keempat.