Pura-pura Rindu.
Sembilan Ramadhan Sertibu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan
Hijriah.
Hari ini saya teringat postingan
di Instagram. Yang di post oleh teman saya kemarin, di postingan itu ada
tulisan...
Tentang ramadhan benar-benar rindu
Atau pura-pura rindu.
Saya jadi berpikir disitu. Saya benar-benar
rindu atau Cuma pura-pura ya. Teman saya tidak menjelaskan sih bagaimana
pura-pura rindu itu. Saya juga ga nanya. Jadi aja saya ga tau makna dari
kepura-puraan itu.
Cuma yang bisa saya sedikit
pelajari dan boleh saya analogikan. Jika kita rindu ke temen lama, Cuma rindunya teh ga
bener-bener rindu. Karena kita ga deket sama si temen lama itu, kalau di kelas kaya bukan gengan kita dia tuh jadi kita ga tau banyak tentang dia. Nah,
dalam suatu kesempatan ada sebuah acara reuni atau buka bersama teman
kelasan dulu. Tapi yang pertama datang itu kita dan teman kita yang ga deket
itu.
Dan kalau saya, mungkin lama
kelamaan akan cape ngobrol dengan dia. Karena salah satu alasan kita ga deket
juga kita ga sepaham dan tidak sesuai dengan karakter temen itu. nah kira-kira
begitulah analogi saya. (ga nyambungkan? biarin)
Jika teman lama itu adalah ramadhan.
Kita bisa dikatakan pura-pura jika makin hari di bulan ramadhan ini kita merasa
capek, atau kita merasa ga nyaman saat melaksanakan ibadah di bulan ramadhan
sampai akhirnya tidak ada yang bisa kita ambil di ramadhan ini. Karena memang
kita tidak kenal dekat dan nyaman dengannya.
Seandainya dahulu kita mau
mempelajari tentang keutamaan ramadhan, mau mengenalnya lebih jauh, mau
mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Mungkin kita akan merasa nyaman. Karena
saat kita mempersiapkan diri untuk ramadhan pun sudah bisa dikatakan sebagai
bukti kalau kita merindukannya.
Semoga saya tetap konsisten untuk
beribadah
21:39 di langit malam yang cerah.
Komentar
Posting Komentar