Menanyakan Merdeka
Di pagi hari yang dingin Udin
bangun dari tidurnya, berbekal kemauan yang kuat untuk mandi dan gosok gigi.
Udin memikirkan apa yang akan ia lakukan di hari itu. Sampai saat dia selesai
mandi dan siap berganti pakaian untuk sekolah. Ia teringat, ia harusnya tidak
memakai baju koko di hari Jum’at itu, tapi baju seragam SMA biasa. Karena di
hari itu, adalah tanggal 17 Agustus, dimana seluruh sekolah mengadakan upacara
bendera.
Dengan berleha-leha Udin pun
berganti pakaian. Selepas itu, dia sarapan dan segera pergi ke sekolah. Di perjalanan
sekolah, Udin melihat begitu banyak umbul-umbul dan hiasan-hiasan 17an. Begitu ramai,
mulai dari bendera merah putih yang banyak di pinggir jalan. Sampai ke
spanduk-spanduk partai yang kalimatnya penuh dengan ucapan Dirgahayu Indonesia
yang ke-73.
Sesampainya di sekolah, ia
langsung dikomandai oleh guru-gurunya agar segera melakukan persiapan untuk melakukan upacara. Mulai
dari memakai dasi, topi dan merapihkan semua yang perlu dirapihkan. Lalu bel
sekolah berbunyi.
Menandakan seluruh siswa harus
baris rapih di lapangan upacara. Bukan karena adanya bencana alam, tapi karena
upacara bendera akan dilakukan.
Seperti pada upacara-upacara
bendera setiap hari senin, Udin selalu menempatkan diri di barisan paling depan karena
postur tubuhnya kurang tinggi. Ia merasa wajar dan sadar diri dengan hal itu. Beberapa
menit kemudian, petugas upacara bersiap dan guru-guru pun mengatur barisan para muridnya.
Ahhhh, Udin memang selalu tidak
bersemangat dengan upacara bendera. Tidak ada yang spesial dalam upacara
bendera itu. Selain petugas upacaranya dari paskibra sekolahnya dan pembina upacaranya
kepala sekolah. Apalagi yang spesial?
Sampailah kepada amanat dari
pembina upacara. Perkataan dari pembina upacara itu. Amanat itu, yang membuat
Udin bertanya-tanya.
“Indonesia hari ini sudah
merdeka, lepas dari segala bentuk penjajahan yang menyebabkan kita tidak
leluasa dalam beraktifitas. Fisik kita aman tentram, kita bisa makan dengan
tenang, minum dengan tenang, mandi dengan tenang.” Kalimat pembuka dari isi
amanat pembina upacara.
“Tapi, hari ini ada bentuk
penjajahan lain yang secara tidak sadar kita rasakan. Dan banyak contohnya,
seperti barang yang kita gunakan sehari-hari misalnya, itu semua merupakan
barang buatan luar negeri. Bahkan, micropohone
yang Bapak gunakan saat ini pun merupakan buatan luar negeri. Memang ini
sangat berguna dan bermanfaat untuk kita. Tapi secara tidak kita sadari,
semakin banyak kita bergantung pada barang buatan luar negeri, maka kemerdekaan
kita terdistorsi. Karena seandainya orang luar tidak memproduksi barang itu lagi
untuk kita, bisakah kita hidup dengan baik?” Lanjut pembina upacara.
“Lalu permasalahan moral remaja
saat ini. Seperti kalian-kalian ini nak. Dengan gadget, kalian bisa mengakses
apa yang tidak orang tua kalian pantau. Kalian bisa mengakses segala hal
negatif maupun positif. Juga bisa membentuk prilaku anak muda seperti kalian
semua. Kalian yang seharusnya bisa menjadi pemimpin bangsa, bisa menjadi
penghancur bangsa dengan segala pengaruh dari luar, dan itu bisa dilakukan
dengan gadget yang kalian miliki.” Lanjut pembina upacara dengan tegas.
“Hal ini lah yang harus kita
waspadai anak-anak. Tanyakan kembali kepada diri kalian apa makna kemerdekaan
bagi diri kalian.
Namun, terlepas dari itu semua. Kita patut berterima kasih
kepada para jasa pahlawan kita dan bersyukur atas takdir merdeka dari
penjajahan ini.” Begitu akhir dari isi amanat pembina.
Udin yang berdiri di barisan
depan pun merasa bingung dan ingin menanyakan kembali arti kemerdekaan dalam
dirinya. Jadi apa sebetulnya merdeka itu?
Kemarin Udin sempat membaca di
media sosial. Puisi dari seseorang yang mempertanyakan kemerdekaan, yang justru
diperingati dengan lomba makan kerupuk, hal ini seolah-olah menggambarkan bahwa hinanya
manusia Indonesia untuk makan kerupuk yang di ikat di atas tali dan memakannya
dengan mangap-mangap dan berdiri. Kenapa tidak biasa saja makannya. Bukankah itu
pembodohan, dan tidak bernilai.
Terlebih lagi lomba balap karung
yang dengan susah payah, sekaligus berbahaya. Manusia Indonesianya perlu lari ke
ujung finish dengan kaki berada di dalam karung. Katanya kita sudah merdeka, kok
seperti itu sih kita memperingatinya. Hal itu pasti tidak akan meningkatkan
kecintaan manusia Indonesia kepada negerinya. Apalagi bisa mengenang jasa
pahlawannya.
Yang terpikirkan mungkin hanya
cara bagaimana dirinya bisa menghabiskan kerupuk gantung dengan cepat. Atau meloncat dengan karung secepat mungkin ke garis finish. Agar menang dan mendapatkan hadiah. Cukup.
Kira-kira itu yang diingat Udin
dari tulisan di medsos. Dan Udin mempertanyakannya kembali dalam dirinya.
Sepertinya, ada benarnya juga
kalimat itu.
Sampai selepas upacara. Sekolahnya mengadakan kegiatan lomba 17an. Dan ia melihat teman-temannya
mangap-mangap mencoba makan kerupuk gantung, juga ada yang loncat-loncatan
dengan kaki berada dalam karung. Dan segala kegiatan perlombaan yang
seolah-olah menunjukkan tidak merdekanya manusia. Juga tidak terlihat nilai
untuk mengajarkan manusia Indonesia agar kenal dengan pahlawan dan negerinya.
Terlebih lagi, banyak juga
manusia Indonesia yang menulis dan mempertanyakan tentang kemerdekaan dalm
postingan di medsos. Ada yang mengatakan kondisi hutang negeri ini menyebabkan
kita tidak bisa dikatakan merdeka. Ada yang menulis permasalahan perekonomian,
politik, sosial di negeri ini menyebabkan manusia Indonesia belum pantas dikatakan
merdeka.
Udin pun menanyakan kembali pada
dirinya. Apakah benar belum merdeka?
Sampai teman Udin memecah
lamunannya. Dan mengajak Udin agar bersiap-siap untuk lomba tarik tambang. Udin
ikut lomba tersebut karena terpaksa sudah didaftarkan dua hari sebelum acara 17an oleh teman-temannya. Karena
Udin memang dirasa mampu oleh teman-temannya.
Udin pun bersiap, dengan
meratakan bedak ke telapak tangannya. Udin memegang tali tambang, yang juga
dipegang oleh teman-temannya dan peserta lawan. Dan dalam hatinya Udin berkata.
“Tapi kan dengan perlombaan ini,
manusia Indonesia jadi bisa gotong royong dan bersatu.”
“Baik semuanya bersiap. Satu....”
Panitia lomba tarik tambang memberi aba-aba.
“Tapi kan dengan lomba ini. Saya
jadi tidak tahu banyak tentang para pahlawan. Juga tidak membuat saya paham
bagaimana sejarah Indonesia.”
“Dua.....” Teriak panitia.
“Tapi..... ah sudahlah, bodo amat
ini sudah merdeka atau belum, yang jelas saya merdeka untuk mengatakan sudah
merdeka atau belum merdeka.”
“Tiga.....”
Perlombaan pun dimulai dan Udin
menarik tali tambang sekuat tenaga. Yang dengannya ia tidak jadi paham sejarah
dan mengenal para pahlawan. Tapi kemudian, Udin berteriak.
“MERDEKA.” Atas pilihannya.
Komentar
Posting Komentar