Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Jenguk

Sepuluh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah Disepuluh hari pertama ini. Saya mensyukuri nikmatnya sehat. Karena tadi siang sebelum jum'atan di laksanakan, saya menjenguk teman di rumah sakit. Betapa bersyukurnya saya diberi nikmat sehat ini. Dan satu hal yang terpikirkan hari ini adalah. Doa. Karena itu yang diingatkan oleh penceramah sebelum tarawih tadi. 21:30 ngetik di hape

Pura-pura Rindu.

Sembilan Ramadhan Sertibu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari ini saya teringat postingan di Instagram. Yang di post oleh teman saya kemarin, di postingan itu ada tulisan... Tentang ramadhan benar-benar rindu Atau pura-pura rindu. Saya jadi berpikir disitu. Saya benar-benar rindu atau Cuma pura-pura ya. Teman saya tidak menjelaskan sih bagaimana pura-pura rindu itu. Saya juga ga nanya. Jadi aja saya ga tau makna dari kepura-puraan itu. Cuma yang bisa saya sedikit pelajari dan boleh saya analogikan. Jika kita rindu ke temen lama, Cuma rindunya teh ga bener-bener rindu. Karena kita ga deket sama si temen lama itu, kalau di kelas kaya bukan gengan kita dia tuh jadi kita ga tau banyak tentang dia. Nah, dalam suatu kesempatan ada sebuah acara reuni atau buka bersama teman kelasan dulu. Tapi yang pertama datang itu kita dan teman kita yang ga deket itu. Dan kalau saya, mungkin lama kelamaan akan cape ngobrol dengan dia. Karena salah satu alasan kita ga deket...

Menertawakan Hidup

Delapan Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari rabu yang tanggal 23 mei 2018. Ga ada kerjaan menjadikan saya sedikit sulit untuk mengingat hari dan tanggal. Bahkan, tadi aja saya harus lihat kalender dulu buat tau ini hari apa. Tapi karena saya juga ga tahu harus liat kalendernya di tanggal berapa. Jadi weh saya inget sama sumbangan buat buka puasa di mesjid. Ga nyambungkan? Biarin, soalnya bapak saya emang kebagian ngasih sumbangan di hari rabu. Di hari ini saya hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Membeli gelas plastik. Sampai membaca buku di gelas plastik (yang terakhir boong deng). Tadi juga saya sempat bervideo callan. Bukan karena kangen tapi karena ngomongin bisnis. Sok iye banget ya. Oh iya, ada satu hal yang menginspirasi saya untuk terus menulis di hari ini. Bukunya raditya dika. Saya udah bilang di postingan sebelumnya. Kalau saya lagi baca buku raditya dika. Cuma saya baru menyadari betapa serunya menulis hari ini. Say...

Baca Buku aja?

Tujuh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hirjiah Hari ketujuh. Sudah seminggu saya berada di bulan Ramadhan ini. Bersyukur karena masih sanggup dan mampu puasa hari ini. Hari ini saya sedikit rada stres. Karena ketawa-ketawa sendiri pas baca bukunya Raditya Dika. Ya mungkin begitulah kalau ada orang yang ngeliat saya ketawa sendirian. Atau mungkin mereka iri. Begitulah hari ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku. Dan tidak lupa bahagia. Sampai tadi penceramah shalat tarawihnya bilang. “Tolong kalau ibu dan bapak melihat saya di api neraka, selamatkan saya. Dan katakan pada Allah bahwa saya pernah kultum di tempat ini. Karena begitulah resiko seorang yang berilmu, dan berbeda derajatnya dengan orang yang tidak berilmu.” Setelah mendengar kata-kata itu. Saya jadi mikir. Nanti yang nyelametin gua di akhirat siapa ya? 22:06 dimalam yang tadi abis makan ager.

Film Alif Lam Mim

Enam Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan. Sudah enam hari bulan ramadhan ini berjalan. Di hari ini saya menonton film Alif Lam Mim di youtube. Film ini menceritakan negara Indonesia pada tahun 2026. Atau lebih ya, saya lupa. Pokonya menceritakan Indonesia di masa depan. Diceritakan dalam film itu bahwa Indonesia menjadi negara yang liberal. Sangat sentimen bahkan benci terhadap agama. Mulai dari yang bersorban. Ya, hanya bersorban. Di film ini menceritakan bagaimana negara Indonesia begitu takut dengan agama. Dikhususkan Islam. Para penguasanya ingin membuat negeri yang damai, namun tidak dengan agama. Yah, sebetulnya cerita ini saya pikir bisa terjadi di Indonesia. Seandainya, memang negara ini ada “revolusi” seperti yag terjadi di dalam film itu. Namun bagaimanapun, itu hanyalah film. Saya menoontonnya untuk mengambil pelajarannya dan membuang yang tidak ada manfaatnya. Cerita selengkapnya seperti apa silahkan tonton sendiri. Saya bukanlah oran...

Sepi.

Lima Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah. Mulai terasa lelah puasa hari ini. Ditambah hujan yang selalu mengguyur kota setiap sorenya. Seakan anomali dengan bulan Ramadhan yang panas. Kalau tidak salah begitu artinya. Dan malam ini, selepas tadarus Al-Qur’an bersama di masjid. Yang membacanya juz lima. Saya merasa dingin. Karena yang bertadarus di masjid jumlahnya tidak lebih dari jari di satu tangan.  Yah, begitulah. Kondisi cuaca yang seperti ini memang enaknya beristirahat. Bukan beribadah. Jumlah shaff di shalat Tarawih juga mulai berkurang. Tadi saya lihat hanya bersisa dua shaff. Ahh, mungkin karena hujan. Tapi begitulah Kota Bogor. Yang televisi di siarkan bahwa Bendung Katulampa Siaga 3. Dan kemenag merekomendasikan 200 mubaligh. Yah, saya hanya ingin bersyukur bisa merasakan nikmat seperti ini.  Tetap ingin konsisten untuk menulis. Semoga mampu. 22:18 yang abis makan kripik.

Tulisan Buat Kemarin

Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Saya telat upload untuk tanggal Tiga Ramadhan. Karena kehabisan kuota yang belum sempat ada kemarin. Ternyata segala rencana yang kita usahakan untuk berhasil pasti saja ada gangguan. Walaupun itu hanya kehabisan kuota. Dan sekarang sudah masuk tanggal Empat Ramadhan. Yang berarti tulisan ini untuk kemarin, Mau bagaimanapun hari ini adalah hari ini. Dan kemarin saya kembali berjualan dengan teman-teman saya. Ga tau untung apa enggaknya. Dan kuliah shubuh kemarin. Pa Haji mengingatkan jamaahnya. Bahwa sakit dan kematian adalah hal yang datang secara tak terduga. 14:06 di hari keempat.

Jum'at Pertama

Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari Jum’at pertama di bulan ramadhan. Banyak ilmu yang saya dapat hari ini. Karena ada kuliah shubuh, khutbah jum’at dan ceramah sebelum shalat tarawih. Itu semua sangat memotivasi diri saya untuk lebih baik lagi. Kuliah shubuh di sampaikan oleh Pa Haji Asep. Isinya berkenaan tentang waktu. Sedikit yang bisa saya ambil. Karena saya mendengarnya sambil mengantuk dan kadang-kadang merem. Karena ga melek. Pa Haji Asep mengingatkan kita bahwa waktu itu sangat berbahaya. Jika orang-orang bisa mengatakan bahwa waktu adalah uang, maka ummat islam bisa mengatakan bahwa waktu adalah taqarrub atau waktu adalah mendekatkan diri pada Allah. Kurang lebih begitulah isinya. Lalu untuk khutbah jum’at, yang menjadi khotibnya adalah Pa Arief. Yang mengingatkan kita tentang keutamaan bulan ramadhan. Yang dalam akhir khutbahnya, beliau tersedu saat mengucapkan kalimat “Manfaatkan ramadhan ini karena belum tentu kita ...

Nikmatnya Berbuka

Dua Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah. Di hari inilah saya merasakan nikmatnya berbuka puasa. Setelah menahan nafsu dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Seluruh ummat muslim membatalkan puasanya saat adzan maghrib berkumandang. Dari sinilah saya percaya. Bahwa, kenikmatan itu dapat kita rasakan setelah dirasakan tidak nikmat. Kenyang tidak akan nikmat kalau tidak ada lapar. Air minum tidak akan terasa nikmat jika tidak karena haus. Begitu juga kamu, tidak akan merasa bahagia jika tidak merindu. *eh. Apaansi. Di hari ini pulalah saya pertama kali berjualan di bulan Ramadhan. Yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Dagangan saya (klan kami) berada di samping masjid jika kalian lihat dari depan. Dan berada di belakang masjid jika kalian lihat dari samping. Bingungkan? Sama saya juga. Dagangan yang kami jual tidak lain adalah gorengan, es buah, sampai gorengan es buah (yang ini boong). Pokonya jualan hari ini cukup melela...

Hakikat Ilmu dan Kegunaan Ilmu?

Tadi pagi saya membuka kembali buku tentang filsafat ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri (saya tidak tahu gelarnya). Saya sebetulnya sudah sedikit membaca isi buku tersebut beberapa tahun yang lalu. Dan tadi pagi saya membaca kembali karena ingin mengingat kembali apa yang sudah saya baca. Yang pertama saya buka adalah daftar isinya. Karena kalau buka puasa nanti maghrib waktunya. Nah, di akhir buku tersebut ada bab yang berjudul “Hakikat dan Kegunaan Ilmu”. Dan dalam sebuah paragraf ada tulisan yang menarik minat saya dan membuat saya setuju dengan apa yang saya baca. Tulisan itu seperti ini: “Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan prakt...

Persiapan

Satu Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Satu Ramadhan yang bertepatan di tahun 2018 Masehi ini saya merasa rindu. Namun rindu yang malu saat bertemu dengannya. Kenapa saya malu? Karena saya tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Sebetulnya saya sudah mempunyai bahan evaluasian Ramadhan dari tahun kemarin. Dan salah satu evaluasinya adalah. Persiapan. Yang di Ramadhan ini, saya justru tidak mempersiapkan diri dengan baik. Banyak alasan yang bisa saya sebutkan. Tapi begitulah orang gagal, selalu mencari banyak alasan. Malam ini di tanggal yang enam belas mei dua ribu delapan belas masehi. Adalah malam pertama saya dan seluruh ummat muslim di dunia melaksanakan shalat Tarawih. Dengan jumlah rakaat, tempat, dan imam yang berbeda-beda. Tarawih malam ini begitu menyentuh hati saya. Pada rakaat pertama shalat Isya saja. Saya ingin menangis rasanya. Ingin menangis karena bacaan imam yang begitu merdu, dan menyesal tidak mempersiapkan k...