Jum'at Pertama
Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus
Tiga Puluh Sembilan Hijriah.
Hari Jum’at pertama di bulan
ramadhan.
Banyak ilmu yang saya dapat hari
ini. Karena ada kuliah shubuh, khutbah jum’at dan ceramah sebelum shalat
tarawih. Itu semua sangat memotivasi diri saya untuk lebih baik lagi.
Kuliah shubuh di sampaikan
oleh Pa Haji Asep. Isinya berkenaan tentang waktu. Sedikit yang bisa saya
ambil. Karena saya mendengarnya sambil mengantuk dan kadang-kadang merem. Karena
ga melek.
Pa Haji Asep mengingatkan kita
bahwa waktu itu sangat berbahaya. Jika orang-orang bisa mengatakan bahwa waktu
adalah uang, maka ummat islam bisa mengatakan bahwa waktu adalah taqarrub atau waktu adalah mendekatkan
diri pada Allah.
Kurang lebih begitulah isinya.
Lalu untuk khutbah jum’at, yang
menjadi khotibnya adalah Pa Arief. Yang mengingatkan kita tentang keutamaan
bulan ramadhan. Yang dalam akhir khutbahnya, beliau tersedu saat mengucapkan
kalimat “Manfaatkan ramadhan ini karena belum tentu kita akan bertemu bulan ramadhan
berikutnya.”
Dan begitulah ilmu yang saya
dengar. Sedang saya coba tulis biar ingat.
Yang terakhir adalah ceramah
singkat sebelum tarawih yang di bawakan oleh Pa Haji Dadang. Yang mengingatkan
kita untuk selalu bersyukur karena bisa merasakan nikmatnya beribadah. Karena di
luar sana banyak orang yang belum merasakan nikmatnya beribadah.
Karena nikmat beribadah ini hanya
dapat dirasakan oleh orang-orang yang beriman.
Lalu ceramah itu nyambung kepada
sebuah kebudayaan yang dibentuk dengan dipaksa, terpaksa dan terbiasa. Nah,
saat terbiasa inilah sudah menjadi sunnah. Dan yang paling penting adalah
membuat kebiasaan di masyarakat.
Contoh kebiasaan yang baik dan
sudah terbiasa bahkan membudaya adalah saat shalat jum’at. Akan terlihat aneh
jika laki-laki di waktu shalat jum’at justru berada di luar masjid. Dan masyarakat
yang melihat itu pasti langsung menegurnya. Juga tidak ada laki-laki yang
berani meninggalkan shalat jum’at. Nah itu adalah contoh kebudayaan yang baik. Beliau
juga menambahkan. Padahal, apa bedanya shalat jum’at dengan shalat yang lain.
Beliau mengatakan itu dengan harapan
masyarakat pun akan merasa aneh jika masuk waktunya shalat fardhu masih terlihat
laki-laki berkeliaran di luar masjid.
Ceramah itu diakhiri dengan
kalimat yang saya ingat. Bahwa kita harus membumikan ajaran-ajaran kebaikan
dari langit. Karena itu pasti benar. Kebenaran itu turun ke bumi dan di bumi
pasti ada perbedaan karena kondisi yang berbeda-beda, namun kebenarannya tetap
satu.
Kurang lebih itu pelajaran yang
saya dapat hari ini. Pokonya ilmu itu mengingatkan saya tentang diri saya yang tak luput dari dosa.
Tentang pembiasaan tadi. Saya sedang
memaksa diri saya untuk terus menulis.
-Ditulis dalam rangka
mengkonsistensikan diri-
Maafkan jika tulisannya tidak
enak dibaca.
21:47 yang lelah ingin tidur
Komentar
Posting Komentar