Persiapan
Satu Ramadhan Seribu Empat Ratus
Tiga Puluh Sembilan Hijriah.
Satu Ramadhan yang bertepatan di
tahun 2018 Masehi ini saya merasa rindu. Namun rindu yang malu saat bertemu
dengannya. Kenapa saya malu?
Karena saya tidak mempersiapkan
diri untuk bertemu dengannya.
Sebetulnya saya sudah mempunyai
bahan evaluasian Ramadhan dari tahun kemarin. Dan salah satu evaluasinya
adalah. Persiapan.
Yang di Ramadhan ini, saya justru
tidak mempersiapkan diri dengan baik. Banyak alasan yang bisa saya sebutkan. Tapi
begitulah orang gagal, selalu mencari banyak alasan.
Malam ini di tanggal yang enam
belas mei dua ribu delapan belas masehi. Adalah malam pertama saya dan seluruh
ummat muslim di dunia melaksanakan shalat Tarawih. Dengan jumlah rakaat,
tempat, dan imam yang berbeda-beda.
Tarawih malam ini begitu
menyentuh hati saya. Pada rakaat pertama shalat Isya saja. Saya ingin menangis
rasanya. Ingin menangis karena bacaan imam yang begitu merdu, dan menyesal tidak
mempersiapkan kedatangan Ramadhan dengan baik.
Bukankah para ulama sampai rela
menutup tokonya di bulan Sya’ban untuk pemanasan ibadah di bulan Ramadhan? Kenapa
saya yang tidak punya toko dan bukan ulama tidak bisa mempersiapkan diri untuk
kedatangan Ramadhan? Ahhh, menyesal saya rasanya.
Bahkan di Ramadhan tahun lalu
targetan saya membaca Al-Qur’an agar khatam dalam sebulan tidak tercapai. Dan itu
karena. Kurang persiapan. Dan itulah yang membuat saya sedih.
Tapi sudahlah, tidak ada gunanya
menyesali apa yang sudah terjadi.
Semuanya tinggal kita usahakan.
Oh iya, seperti kebiasaan di
masjid dekat rumah saya selepas shalat Tarawih. Pemudanya biasa membaca Al-Qur’an
bersama-sama. Satu hari satu juz. Biar dalam sebulan dapat khatam tiga puluh
juz.
Dan tadi, juz pertama telah kami
baca. Namun bedanya, malam ini kami merasa sepi. Karena pemuda yang ikut
mengaji tidak banyak. Dan disitulah saya bertanya. Bulan Ramadhan ini, dimana
tempat yang ramai?
Dan bukan masjid tentunya.
Dimalam yang nanti pagi sahur. Saya
ingin mengkonsistensikan diri untuk mengupload tulisan setiap harinya. Di bulan
Ramadhan ini. Entahlah, kenapa saya ingin melakukan ini. Hanya saja. Saya ingin.
Melihat. Apakah saya bisa konsisten atau tidak.
22:35 di malam yang hujan udah
reda.
Komentar
Posting Komentar