Nikmatnya Berbuka


Dua Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah.

Di hari inilah saya merasakan nikmatnya berbuka puasa. Setelah menahan nafsu dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Seluruh ummat muslim membatalkan puasanya saat adzan maghrib berkumandang.

Dari sinilah saya percaya. Bahwa, kenikmatan itu dapat kita rasakan setelah dirasakan tidak nikmat. Kenyang tidak akan nikmat kalau tidak ada lapar. Air minum tidak akan terasa nikmat jika tidak karena haus. Begitu juga kamu, tidak akan merasa bahagia jika tidak merindu. *eh. Apaansi.

Di hari ini pulalah saya pertama kali berjualan di bulan Ramadhan. Yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

Dagangan saya (klan kami) berada di samping masjid jika kalian lihat dari depan. Dan berada di belakang masjid jika kalian lihat dari samping. Bingungkan? Sama saya juga.

Dagangan yang kami jual tidak lain adalah gorengan, es buah, sampai gorengan es buah (yang ini boong). Pokonya jualan hari ini cukup melelahkan. Tapi juga seru.

Yang jualan es bukan hanya klan kami. Ada juga dari klan lain yang berjualan. Sampai saya bilang pada Mas Tomy. “Udah deuh, rejeki mah ga akan ketuker.” Hanya sebuah kata-kata untuk memotivasi. Biar kelihatan lebih gagah dari Mario Teguh.

Dan malam ini, saya merasakan lelahnya. Bukan hanya batin, tapi juga fisik. Ahh, Ramadhan. Seandainya saya tidak menyadari ini adalah sebuah proses pembinaan diri. mungkin saya sudah memilih tidur dan minta tidak diganggu.

Semoga saya semangat dan dikuatkan.

-Ditulis sebagai janji untuk konsisten menulis di bulan Ramadhan. Semoga istiqomah-

21:33 yang bersin-bersin dari tadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.