Hakikat Ilmu dan Kegunaan Ilmu?


Tadi pagi saya membuka kembali buku tentang filsafat ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri (saya tidak tahu gelarnya). Saya sebetulnya sudah sedikit membaca isi buku tersebut beberapa tahun yang lalu. Dan tadi pagi saya membaca kembali karena ingin mengingat kembali apa yang sudah saya baca.

Yang pertama saya buka adalah daftar isinya. Karena kalau buka puasa nanti maghrib waktunya.

Nah, di akhir buku tersebut ada bab yang berjudul “Hakikat dan Kegunaan Ilmu”. Dan dalam sebuah paragraf ada tulisan yang menarik minat saya dan membuat saya setuju dengan apa yang saya baca.

Tulisan itu seperti ini:

“Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Artinya seperti kita mempelajari main piano atau membaca sajak cinta, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah. Bahkan sekarang pun gejala ini masih terlihat di mana orang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai kegunaan praktis melainkan sekedar upaya untuk memperkaya jiwa. Sambil minum teh beserta penganan lainnya mereka berdebat tentang masalah nuklir sampai pedagang kaki lima, sekadar untuk mengasah ketajaman berpikir mereka dan mendapatkan kepuasan. Seperti seorang olahragawan, dalam seni raga orhiba, mereka merem melek kepuasan setelah kepenatan latihan. Ilmu sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan waktu berdebat: makin hafal lantas makin hebat! Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul kita bisa ikut menyambut, makin banyak maka makin yahut. Kemampuan mengutip teori-teori ilmiah yang bersifat estetik ini lalu berkembang menjadi status sosial, seperti segelintir masyarakat golongan menengah sekarang ini yang memaksa anaknya belajar main organ (gengsi dong!), padahal anak ingusan itu masih lebih senang berkubang lumpur, ketimbang disuruh memijiti tuts.”

Itulah paragraf yang ditulis dalam bab Hakikat dan Kegunaan Ilmu. Yang entah itu fiksi atau bukan, tapi saya tetap setuju dengan nilai dari tulisan itu. Jujun S. Suriasumantri, terimakasih.

Bab itu tidak hanya berisikan satu paragraf, tapi lebih panjang. Yang isinya tetap sama menurut saya, menggambarkan ilmu yang lebih mementingkan nilai estetis daripadi nilai praktisnya.

Dan saya merasa soal itu. Karena selama saya sekolah. Khususnya saat pelajaran matematika, saya tidak tahu untuk apa rumus itu saya hafal dan saya pelajari. Apa kegunaannya? Dan kapan saya bisa menggunakannya?

Sampai pada saat awal semester di kelas dua belas. Guru matematika saya menanyakan pendapat teman-teman saya tentang matematika. Ada yang menjawab “Matematika adalah musuh saya Pak.” Dan satu kelas tertawa.

Ada juga yang bilang “matematika itu pusing Pak.” Dan satu kelas sepakat. Begitu juga saya.

Walaupun saat ditanya, saya menjawab “Matematika itu menurut saya hanya alat Pak, saya akan mempelajari matematika jika saya tahu manfaat dari mempelajarinya itu apa. Kalau saya ga tahu manfaatnya, saya cenderung malas untuk mempelajarinya Pak.” Kurang lebih begitu yang saya ucapkan.

Pemikiran saya mengenai ilmu memang lebih kepada hal praktis sebetulnya. Karena saya sadar diri saya tidak bisa menjadi ahli dalam seluruh mata pelajaran. Apalagi matematika. Walaupun matematika di kelas IPS itu memang lebih terlihat manfaatnya bagi kehidupan. Tidak tahu kalau di kelas IPA.

Saya merasa membuang-buang waktu, jika saya mempelajari hal-hal yang tidak bisa saya amalkan. Saya sempat berpikir untuk apa saya menghafal rumus sin cos tan jika saya tidak tahu cara menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan sampai saat ini saya memang tidak pernah mendapatkan masalah yang dapat diselesaikan dengan rumus itu. Ga tau kalau nanti.

Yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah tentang realita pendidikan yang saya terima ternyata untuk mendapatkan nilai yang estetis. Yang begitu banyak materi, begitu banyak rumus, tapi nilai praktisnya tidak pernah saya praktikkan. Karena saya memang tidak tahu cara mempraktikannya.

Setidaknya, saya menyadari hal ini.

Disini saya memang sedikit pragmatis. Seolah-olah saya belajar itu karena menilai dari berguna atau tidaknya suatu ilmu. Namun, yang saya masih belajar sampai sekarang. Adalah belajar agar mendapat ridho Allah. Saya masih belajar tentang belajar yang seperti itu.

Tapi di lain sisi, saya pun berpikir. Buat apa saya mempelajari hal yang tidak bisa saya amalkan? Saya merasa sia-sia dengan hal itu. Saya berpikir, waktu yang dipakai untuk mempelajari ilmu yang tidak bisa saya amalkan, bisa saya ganti dengan belajar yang menurut saya, bisa saya amalkan. Saya tidak ingin mubadzir. Apalagi pada diri sendiri.

Begitulah saya, di awal ramadhan ini. Merasa semakin kecil saat mendapat ilmu yang baru. Dan semakin ingin menulis biar ingat. Yaaah, bagaimanapun ilmu, saya harus berilmu untuk mendapatkan ilmu.

Di siang hari yang baru makan sebelum shubuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semen Basah

OSPEK dimaknai...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.