Postingan

Film Imperfect: Sebuah Gambaran Bagaimana Konstruksi Sosial Terjadi

Film Imperfect menceritakan kisah hidup Rara (Jessica Milla), seorang perempuan yang memiliki badan gendut, kulit berwarna gelap dan rambut yang agak tidak terurus. Penampilan itu dilengkapi dengan pakaian baju yang berwarna pucat dan sepatu kets tidak menarik yang ia gunakan. Dalam film ini penampilan tersebut berusaha ditunjukkan sebagai penampilan yang tidak menarik (bagi perempuan) sehingga mengundang komentar-komentar yang menyudutkan Rara, dalam hal ini adalah orang-orang yang berada disekitarnya. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini menggambarkan bagaimana sosok Rara yang sedari kecil sudah mendapatkan komentar tentang penampilannya. Bahkan komentar tersebut terucap dari salah satu anggota keluarganya sendiri yaitu Ibunya, Debby (Karina Suwandi) seperti ucapan “kak, kurangin nasinya.” atau “kak, ingat paha.” sebagai kalimat yang membersamai saat makan bersama. Juga kalimat pengingat lainnya seperti “Jangan lupa pakai sunblock.” Yang diucapkan pada Rara sebelum ia...

Tidak Terasa

Di hari ahad ini, bersama langit yang cerah dan udara yang membawa hawa kenyaman untuk tidur di siang bolong. Di kecamatan Jatinangor, di tempat perantauan ini, di tempat yang jauh dari orang tua. Saya berpuasa. Puasa di bulan Ramadhan ini begitu spesial bagi saya. Bukan hanya karena segala amal kebaikan yang dilipat gandakan oleh Allah SWT. Tapi puasa tahun ini begitu spesial, karena sahur dan berbuka puasanya saya, tidak bersama keluarga. Kondisi ini baru pertama kali saya rasakan. Bahkan awal puasa (atau banyak yang menyebutnya munggahan) tidak saya lakukan bersama keluarga saya di rumah. Kemudian tidak terasa, puasa ini sudah memasuki hari ke-14 Ramadhan. Begitu banyak target ibadah di bulan Ramadhan ini yang tidak terkawal dengan baik oleh saya hanya karena urusan kampus dan urusan duniawi lainnya. Bulan purnama yang begitu terang tadi malam, menjadi pengingat bagi saya tentang waktu yang berlalu dengan begitu cepatnya. Purnama itu seperti hanya sebatas mengucapkan "halo...

Ditipu.

Gambar
Awal bulan Januari 2019. Ada sebuah perisitiwa yang tidak akan pernah saya lupakan. Bahkan tanpa sebuah tulisan pun sepertinya akan selalu saya ingat. Peristiwa yang tidak pernah saya sangka-sangka. Peristiwa yang tidak pernah saya harapkan, dan saya yakin tidak akan ada manusia yang mengharapkan peristiwa tersebut terjadi padanya. Peristiwa yang tidak pernah terlupakan itu adalah. Perisitiwa ditipunya Azka Khaerun Nadi. Berawal dari sebuah postingan di sebuah akun facebook yang saya lihat, sebuah postingan yang menjual smartphone seharga 700 ribu. Dipostingan tersebut mereka berdalih sedang melakukan cuci gudang. Saat saya kontak whatsappnya. Ia, memang berlaku seperti penjual hape beneran. Tidak ada fiktif-fiktifnya. Bahkan saat saya tanya alamat dia memberikan sebuah alamat lengkap dengan rt/rw nya. Saat saya tanya mengenai namanya, ia memberikan poto seseorang yang sedang berada di sebuah toko hape, lalu ada poto ktp dan poto surat ijin usaha sebuah toko bernama Galery Phone. ...

Sadar Akan Kembali

Tak terasa sudah kurang lebih empat bulan saya di Jatinangor. Kecamatan yang penuh dengan mahasiswa dan truk-truk besar. Dengan segala debu dan cuacanya yang aneh. Sampai tata letak bangunannya yang semrawut. Selalu ada hikmah yang berusaha saya ambil dari berbagai masalah yang ada di Jatinangor. Salah satunya adalah sadar akan kembali. Hari pertama saya di Jatinangor dan mendapatkan kamar asrama yang di fasilitasi oleh negara. Saya merasa perlu membeli dan mempunyai semua barang kebutuhan hidup. Mulai dari dispenser, kulkas, sampai dispenser dalam kulkas. Yang saya sadari, ternyata itu tidak penting-penting amat dan akan merepotkan saat pulang nanti. Bahkan, hadir pemikiran dalam otak saya. “Inget zka, lu ga selamanya disini. Nanti juga lu pergi lagi. Jangan sampai pas lu pulang nanti lu terbebani buat bawa begitu banyak barang dan merepotkan diri lu.” Kamudian saya bertanya-tanya. Terus apa yang bisa saya bawa untuk pulang nanti? Sesuatu yang tidak berat dan tidak akan me...

Akademisi yang Tidak Peduli

Di sebuah ruang kelas, tersebutlah beberapa mahasiswa yang sedang mendiskusikan mengenai tugas kuliah mereka untuk mengabdi ke desa. Kelas itu diisi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan prodi yang ada di kampus. Karena kampus tersebut memiliki program kuliah bersama. Dimana mahasiswa dari fakultas dan prodi yang berbeda dikumpulkan di dalam satu kelas dan belajar bersama dengan mata kuliah yang sama. “Baiklah, jadi jum’at depan kita mau ngapain ke desa?” Tanya ketua mahasiswa di kelas tersebut, yang katanya ingin ikut akmil tahun depan. “Mmh, ngapain ya?” Kata seorang mahasiswi cantik dari fakultas hukum. “Sebelum bertanya begitu, mungkin lebih baik kalau kita laporan dulu hasil observasi di desa yang kemarin. Biar bisa kita analisis masalahnya dan bisa nentuin mau ngapain aja disana.” Saran dari seseorang yang diketahui adalah mahasiswa dari prodi sosiologi. “Idih, sok ide banget kamu.” Kata mahasiswa fakultas kedokteran yang ingin cepat-cepat pulang ke asramany...

Hujan Jatinangor, Bersama Kerinduan yang Dirindukan

Sudah beberapa hari ini Jatinangor diguyur oleh hujan, yang dengannya kegersangan berubah menjadi segar. Beberapa minggu di Jatinangor saya belum pernah berjumpa dengan rintikkan hujan. Padahal, bulan-bulan ini semestinya sudah memasuki musim penghujan (kalau tidak salah). Sampai saya teringat kalau ini bukan kota hujan. Kota hujan, dengan segala rintik air dari langit yang menghujani bumi. Selalu mampu menumbuhkan kerinduan dari setiap warganya. Dengan segala masalah di bumi, sampai dengan yang dipermasalahkan di langit. Kota hujan itu menuntut agar tidak terganti dalam hati. Terutama bagi warga Belanda yang menyebut buitenzorg   karena kenyamanannya. Ya, kenyamanan adalah nilai tambah dari daerah yang buminya selalu bersyukur dengan rintikkan air hujan. Terlalu banyak menulis air hujan saya disini. Karena memang, saya merindukannya. Aroma tanah yang tercium selepas hujan turun menjadi aroma penenang setelah beberapa minggu kegersangan dan debu beterbangan di hadapan wajah...

OSPEK dimaknai...

Di masa penerimaan mahasiswa baru, pasti semua kampus melakukan OSPEK (saya lupa kepanjangannya apa). Pokonya itu adalah masa pengenalan bagi mahasiswa baru. Dan begitupun saya sebagai mahasiswa baru. Yang dengan segala kelelahannya, mengikuti OSPEK. Ada yang lucu disaat hari-hari UNPAD sedang melakukan OSPEK untuk mabanya. Ada yang mengkritik tentang OSPEK di UNPAD. Yang kritikan itu, sangat terlihat bukan dari anak UNPAD dan tidak substansial. Saya yakin banyak yang mengkritik OSPEK. Hanya saja, saya mencoba melihat dari kritikan mereka yang bukan warga UNPAD. Yang dikritik oleh mereka-mereka adalah mengenai mahasiswa baru yang diperlakukan seperti robot, datang pagi dan dipaksa untuk mengikuti acara OSPEK sampai selesai. Dan tidak ada maba yang berani melawan. Oke, sebagai manusia yang ikut OSPEK di UNPAD kemarin. Ada beberapa hal yang saya analisis mengenai OSPEK itu. Karena sebelum saya mengikuti OSPEK. Sedikitnya saya sudah mempertanyakan kepada diri saya sendiri, a...