Postingan

Sadar Akan Kembali

Tak terasa sudah kurang lebih empat bulan saya di Jatinangor. Kecamatan yang penuh dengan mahasiswa dan truk-truk besar. Dengan segala debu dan cuacanya yang aneh. Sampai tata letak bangunannya yang semrawut. Selalu ada hikmah yang berusaha saya ambil dari berbagai masalah yang ada di Jatinangor. Salah satunya adalah sadar akan kembali. Hari pertama saya di Jatinangor dan mendapatkan kamar asrama yang di fasilitasi oleh negara. Saya merasa perlu membeli dan mempunyai semua barang kebutuhan hidup. Mulai dari dispenser, kulkas, sampai dispenser dalam kulkas. Yang saya sadari, ternyata itu tidak penting-penting amat dan akan merepotkan saat pulang nanti. Bahkan, hadir pemikiran dalam otak saya. “Inget zka, lu ga selamanya disini. Nanti juga lu pergi lagi. Jangan sampai pas lu pulang nanti lu terbebani buat bawa begitu banyak barang dan merepotkan diri lu.” Kamudian saya bertanya-tanya. Terus apa yang bisa saya bawa untuk pulang nanti? Sesuatu yang tidak berat dan tidak akan me...

Akademisi yang Tidak Peduli

Di sebuah ruang kelas, tersebutlah beberapa mahasiswa yang sedang mendiskusikan mengenai tugas kuliah mereka untuk mengabdi ke desa. Kelas itu diisi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan prodi yang ada di kampus. Karena kampus tersebut memiliki program kuliah bersama. Dimana mahasiswa dari fakultas dan prodi yang berbeda dikumpulkan di dalam satu kelas dan belajar bersama dengan mata kuliah yang sama. “Baiklah, jadi jum’at depan kita mau ngapain ke desa?” Tanya ketua mahasiswa di kelas tersebut, yang katanya ingin ikut akmil tahun depan. “Mmh, ngapain ya?” Kata seorang mahasiswi cantik dari fakultas hukum. “Sebelum bertanya begitu, mungkin lebih baik kalau kita laporan dulu hasil observasi di desa yang kemarin. Biar bisa kita analisis masalahnya dan bisa nentuin mau ngapain aja disana.” Saran dari seseorang yang diketahui adalah mahasiswa dari prodi sosiologi. “Idih, sok ide banget kamu.” Kata mahasiswa fakultas kedokteran yang ingin cepat-cepat pulang ke asramany...

Hujan Jatinangor, Bersama Kerinduan yang Dirindukan

Sudah beberapa hari ini Jatinangor diguyur oleh hujan, yang dengannya kegersangan berubah menjadi segar. Beberapa minggu di Jatinangor saya belum pernah berjumpa dengan rintikkan hujan. Padahal, bulan-bulan ini semestinya sudah memasuki musim penghujan (kalau tidak salah). Sampai saya teringat kalau ini bukan kota hujan. Kota hujan, dengan segala rintik air dari langit yang menghujani bumi. Selalu mampu menumbuhkan kerinduan dari setiap warganya. Dengan segala masalah di bumi, sampai dengan yang dipermasalahkan di langit. Kota hujan itu menuntut agar tidak terganti dalam hati. Terutama bagi warga Belanda yang menyebut buitenzorg   karena kenyamanannya. Ya, kenyamanan adalah nilai tambah dari daerah yang buminya selalu bersyukur dengan rintikkan air hujan. Terlalu banyak menulis air hujan saya disini. Karena memang, saya merindukannya. Aroma tanah yang tercium selepas hujan turun menjadi aroma penenang setelah beberapa minggu kegersangan dan debu beterbangan di hadapan wajah...

OSPEK dimaknai...

Di masa penerimaan mahasiswa baru, pasti semua kampus melakukan OSPEK (saya lupa kepanjangannya apa). Pokonya itu adalah masa pengenalan bagi mahasiswa baru. Dan begitupun saya sebagai mahasiswa baru. Yang dengan segala kelelahannya, mengikuti OSPEK. Ada yang lucu disaat hari-hari UNPAD sedang melakukan OSPEK untuk mabanya. Ada yang mengkritik tentang OSPEK di UNPAD. Yang kritikan itu, sangat terlihat bukan dari anak UNPAD dan tidak substansial. Saya yakin banyak yang mengkritik OSPEK. Hanya saja, saya mencoba melihat dari kritikan mereka yang bukan warga UNPAD. Yang dikritik oleh mereka-mereka adalah mengenai mahasiswa baru yang diperlakukan seperti robot, datang pagi dan dipaksa untuk mengikuti acara OSPEK sampai selesai. Dan tidak ada maba yang berani melawan. Oke, sebagai manusia yang ikut OSPEK di UNPAD kemarin. Ada beberapa hal yang saya analisis mengenai OSPEK itu. Karena sebelum saya mengikuti OSPEK. Sedikitnya saya sudah mempertanyakan kepada diri saya sendiri, a...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.

Zaman dewasa ini adalah sebuah masa kedewasaan yang tanggung untuk Indonesia. Karena semuanya serasa dipaksakan untuk maju. Walaupun, masih banyak yang belum siap untuk kemajuan itu. Atau lebih tepatnya “kurang dipersiapkan”. Dan mereka yang menyadari perlunya kemajuan ini, memaksakan masyarakat untuk maju. Sebagai dalih untuk mendidik masyarakat yang perlu untuk maju. Bahkan remaja yang sangat mudah mengakses sosial media. Seolah-olah dibiasakan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan segala informasi, segala trend , segala merk, segala wanita, segala politik, segala dakwah, segala tugas-tugas sekolah pun, disosialisasikan melalui sosial media. Apakah ini sebuah indikator ketercapaian dari masyarakat maju? Ada sebuah proses dalam pendidikan yang sering diutarakan oleh para pengajar. Dimana pendidikan itu melalui proses paksa-bisa-biasa. Mungkin tentang sosial media ini. Masyarakat masih dalam proses PAKSAan. Begitu beragam portal sosial media zaman sekarang ini. N...

Menanyakan Merdeka

Di pagi hari yang dingin Udin bangun dari tidurnya, berbekal kemauan yang kuat untuk mandi dan gosok gigi. Udin memikirkan apa yang akan ia lakukan di hari itu. Sampai saat dia selesai mandi dan siap berganti pakaian untuk sekolah. Ia teringat, ia harusnya tidak memakai baju koko di hari Jum’at itu, tapi baju seragam SMA biasa. Karena di hari itu, adalah tanggal 17 Agustus, dimana seluruh sekolah mengadakan upacara bendera. Dengan berleha-leha Udin pun berganti pakaian. Selepas itu, dia sarapan dan segera pergi ke sekolah. Di perjalanan sekolah, Udin melihat begitu banyak umbul-umbul dan hiasan-hiasan 17an. Begitu ramai, mulai dari bendera merah putih yang banyak di pinggir jalan. Sampai ke spanduk-spanduk partai yang kalimatnya penuh dengan ucapan Dirgahayu Indonesia yang ke-73. Sesampainya di sekolah, ia langsung dikomandai oleh guru-gurunya agar segera   melakukan persiapan untuk melakukan upacara. Mulai dari memakai dasi, topi dan merapihkan semua yang perlu dirapihka...

Pendidikan Untuk Uang atau Uang Untuk Pendidikan?

Sepenglihatan saya ada beberapa pandangan di kalangan masyarakat mengenai pendidikan. Dimana mereka yang belum berkesempatan untuk kuliah dan memilih untuk bekerja dulu. Menuliskan kalimat bahwa mereka mencari uang untuk pendidikan. Sementara yang sekolah, dituliskan sebagai yang berpendidikan untuk mencari uang. Sebetulnya, saya kurang nyaman membaca kalimat-kalimat itu. Karena menurut saya keduanya kurang tepat. Jika lihat dalam KBBI, bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan akademik. Dilihat dari definisi tersebut, pendidikan itu tidak ada sangkut pautnya tentang uang. Apalagi menjadikan uang sebagai tujuan dari pendidikan. Itu adalah sebuah kekeliruan yang sangat amat keliru. Karena pendidikan itu bisa kita dapatkan dimana saja,GRATIS. Bahkan saat kita belajar berjalan saat bayi pun. Itu adalah pendidkan. Dan kita tida...