Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Sadar Akan Kembali

Tak terasa sudah kurang lebih empat bulan saya di Jatinangor. Kecamatan yang penuh dengan mahasiswa dan truk-truk besar. Dengan segala debu dan cuacanya yang aneh. Sampai tata letak bangunannya yang semrawut. Selalu ada hikmah yang berusaha saya ambil dari berbagai masalah yang ada di Jatinangor. Salah satunya adalah sadar akan kembali. Hari pertama saya di Jatinangor dan mendapatkan kamar asrama yang di fasilitasi oleh negara. Saya merasa perlu membeli dan mempunyai semua barang kebutuhan hidup. Mulai dari dispenser, kulkas, sampai dispenser dalam kulkas. Yang saya sadari, ternyata itu tidak penting-penting amat dan akan merepotkan saat pulang nanti. Bahkan, hadir pemikiran dalam otak saya. “Inget zka, lu ga selamanya disini. Nanti juga lu pergi lagi. Jangan sampai pas lu pulang nanti lu terbebani buat bawa begitu banyak barang dan merepotkan diri lu.” Kamudian saya bertanya-tanya. Terus apa yang bisa saya bawa untuk pulang nanti? Sesuatu yang tidak berat dan tidak akan me...

Akademisi yang Tidak Peduli

Di sebuah ruang kelas, tersebutlah beberapa mahasiswa yang sedang mendiskusikan mengenai tugas kuliah mereka untuk mengabdi ke desa. Kelas itu diisi oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan prodi yang ada di kampus. Karena kampus tersebut memiliki program kuliah bersama. Dimana mahasiswa dari fakultas dan prodi yang berbeda dikumpulkan di dalam satu kelas dan belajar bersama dengan mata kuliah yang sama. “Baiklah, jadi jum’at depan kita mau ngapain ke desa?” Tanya ketua mahasiswa di kelas tersebut, yang katanya ingin ikut akmil tahun depan. “Mmh, ngapain ya?” Kata seorang mahasiswi cantik dari fakultas hukum. “Sebelum bertanya begitu, mungkin lebih baik kalau kita laporan dulu hasil observasi di desa yang kemarin. Biar bisa kita analisis masalahnya dan bisa nentuin mau ngapain aja disana.” Saran dari seseorang yang diketahui adalah mahasiswa dari prodi sosiologi. “Idih, sok ide banget kamu.” Kata mahasiswa fakultas kedokteran yang ingin cepat-cepat pulang ke asramany...

Hujan Jatinangor, Bersama Kerinduan yang Dirindukan

Sudah beberapa hari ini Jatinangor diguyur oleh hujan, yang dengannya kegersangan berubah menjadi segar. Beberapa minggu di Jatinangor saya belum pernah berjumpa dengan rintikkan hujan. Padahal, bulan-bulan ini semestinya sudah memasuki musim penghujan (kalau tidak salah). Sampai saya teringat kalau ini bukan kota hujan. Kota hujan, dengan segala rintik air dari langit yang menghujani bumi. Selalu mampu menumbuhkan kerinduan dari setiap warganya. Dengan segala masalah di bumi, sampai dengan yang dipermasalahkan di langit. Kota hujan itu menuntut agar tidak terganti dalam hati. Terutama bagi warga Belanda yang menyebut buitenzorg   karena kenyamanannya. Ya, kenyamanan adalah nilai tambah dari daerah yang buminya selalu bersyukur dengan rintikkan air hujan. Terlalu banyak menulis air hujan saya disini. Karena memang, saya merindukannya. Aroma tanah yang tercium selepas hujan turun menjadi aroma penenang setelah beberapa minggu kegersangan dan debu beterbangan di hadapan wajah...

OSPEK dimaknai...

Di masa penerimaan mahasiswa baru, pasti semua kampus melakukan OSPEK (saya lupa kepanjangannya apa). Pokonya itu adalah masa pengenalan bagi mahasiswa baru. Dan begitupun saya sebagai mahasiswa baru. Yang dengan segala kelelahannya, mengikuti OSPEK. Ada yang lucu disaat hari-hari UNPAD sedang melakukan OSPEK untuk mabanya. Ada yang mengkritik tentang OSPEK di UNPAD. Yang kritikan itu, sangat terlihat bukan dari anak UNPAD dan tidak substansial. Saya yakin banyak yang mengkritik OSPEK. Hanya saja, saya mencoba melihat dari kritikan mereka yang bukan warga UNPAD. Yang dikritik oleh mereka-mereka adalah mengenai mahasiswa baru yang diperlakukan seperti robot, datang pagi dan dipaksa untuk mengikuti acara OSPEK sampai selesai. Dan tidak ada maba yang berani melawan. Oke, sebagai manusia yang ikut OSPEK di UNPAD kemarin. Ada beberapa hal yang saya analisis mengenai OSPEK itu. Karena sebelum saya mengikuti OSPEK. Sedikitnya saya sudah mempertanyakan kepada diri saya sendiri, a...

Sosial Media yang Kurang Mensosialisasi.

Zaman dewasa ini adalah sebuah masa kedewasaan yang tanggung untuk Indonesia. Karena semuanya serasa dipaksakan untuk maju. Walaupun, masih banyak yang belum siap untuk kemajuan itu. Atau lebih tepatnya “kurang dipersiapkan”. Dan mereka yang menyadari perlunya kemajuan ini, memaksakan masyarakat untuk maju. Sebagai dalih untuk mendidik masyarakat yang perlu untuk maju. Bahkan remaja yang sangat mudah mengakses sosial media. Seolah-olah dibiasakan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan segala informasi, segala trend , segala merk, segala wanita, segala politik, segala dakwah, segala tugas-tugas sekolah pun, disosialisasikan melalui sosial media. Apakah ini sebuah indikator ketercapaian dari masyarakat maju? Ada sebuah proses dalam pendidikan yang sering diutarakan oleh para pengajar. Dimana pendidikan itu melalui proses paksa-bisa-biasa. Mungkin tentang sosial media ini. Masyarakat masih dalam proses PAKSAan. Begitu beragam portal sosial media zaman sekarang ini. N...

Menanyakan Merdeka

Di pagi hari yang dingin Udin bangun dari tidurnya, berbekal kemauan yang kuat untuk mandi dan gosok gigi. Udin memikirkan apa yang akan ia lakukan di hari itu. Sampai saat dia selesai mandi dan siap berganti pakaian untuk sekolah. Ia teringat, ia harusnya tidak memakai baju koko di hari Jum’at itu, tapi baju seragam SMA biasa. Karena di hari itu, adalah tanggal 17 Agustus, dimana seluruh sekolah mengadakan upacara bendera. Dengan berleha-leha Udin pun berganti pakaian. Selepas itu, dia sarapan dan segera pergi ke sekolah. Di perjalanan sekolah, Udin melihat begitu banyak umbul-umbul dan hiasan-hiasan 17an. Begitu ramai, mulai dari bendera merah putih yang banyak di pinggir jalan. Sampai ke spanduk-spanduk partai yang kalimatnya penuh dengan ucapan Dirgahayu Indonesia yang ke-73. Sesampainya di sekolah, ia langsung dikomandai oleh guru-gurunya agar segera   melakukan persiapan untuk melakukan upacara. Mulai dari memakai dasi, topi dan merapihkan semua yang perlu dirapihka...

Pendidikan Untuk Uang atau Uang Untuk Pendidikan?

Sepenglihatan saya ada beberapa pandangan di kalangan masyarakat mengenai pendidikan. Dimana mereka yang belum berkesempatan untuk kuliah dan memilih untuk bekerja dulu. Menuliskan kalimat bahwa mereka mencari uang untuk pendidikan. Sementara yang sekolah, dituliskan sebagai yang berpendidikan untuk mencari uang. Sebetulnya, saya kurang nyaman membaca kalimat-kalimat itu. Karena menurut saya keduanya kurang tepat. Jika lihat dalam KBBI, bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan akademik. Dilihat dari definisi tersebut, pendidikan itu tidak ada sangkut pautnya tentang uang. Apalagi menjadikan uang sebagai tujuan dari pendidikan. Itu adalah sebuah kekeliruan yang sangat amat keliru. Karena pendidikan itu bisa kita dapatkan dimana saja,GRATIS. Bahkan saat kita belajar berjalan saat bayi pun. Itu adalah pendidkan. Dan kita tida...

Jenguk

Sepuluh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah Disepuluh hari pertama ini. Saya mensyukuri nikmatnya sehat. Karena tadi siang sebelum jum'atan di laksanakan, saya menjenguk teman di rumah sakit. Betapa bersyukurnya saya diberi nikmat sehat ini. Dan satu hal yang terpikirkan hari ini adalah. Doa. Karena itu yang diingatkan oleh penceramah sebelum tarawih tadi. 21:30 ngetik di hape

Pura-pura Rindu.

Sembilan Ramadhan Sertibu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari ini saya teringat postingan di Instagram. Yang di post oleh teman saya kemarin, di postingan itu ada tulisan... Tentang ramadhan benar-benar rindu Atau pura-pura rindu. Saya jadi berpikir disitu. Saya benar-benar rindu atau Cuma pura-pura ya. Teman saya tidak menjelaskan sih bagaimana pura-pura rindu itu. Saya juga ga nanya. Jadi aja saya ga tau makna dari kepura-puraan itu. Cuma yang bisa saya sedikit pelajari dan boleh saya analogikan. Jika kita rindu ke temen lama, Cuma rindunya teh ga bener-bener rindu. Karena kita ga deket sama si temen lama itu, kalau di kelas kaya bukan gengan kita dia tuh jadi kita ga tau banyak tentang dia. Nah, dalam suatu kesempatan ada sebuah acara reuni atau buka bersama teman kelasan dulu. Tapi yang pertama datang itu kita dan teman kita yang ga deket itu. Dan kalau saya, mungkin lama kelamaan akan cape ngobrol dengan dia. Karena salah satu alasan kita ga deket...

Menertawakan Hidup

Delapan Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari rabu yang tanggal 23 mei 2018. Ga ada kerjaan menjadikan saya sedikit sulit untuk mengingat hari dan tanggal. Bahkan, tadi aja saya harus lihat kalender dulu buat tau ini hari apa. Tapi karena saya juga ga tahu harus liat kalendernya di tanggal berapa. Jadi weh saya inget sama sumbangan buat buka puasa di mesjid. Ga nyambungkan? Biarin, soalnya bapak saya emang kebagian ngasih sumbangan di hari rabu. Di hari ini saya hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku. Membeli gelas plastik. Sampai membaca buku di gelas plastik (yang terakhir boong deng). Tadi juga saya sempat bervideo callan. Bukan karena kangen tapi karena ngomongin bisnis. Sok iye banget ya. Oh iya, ada satu hal yang menginspirasi saya untuk terus menulis di hari ini. Bukunya raditya dika. Saya udah bilang di postingan sebelumnya. Kalau saya lagi baca buku raditya dika. Cuma saya baru menyadari betapa serunya menulis hari ini. Say...

Baca Buku aja?

Tujuh Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hirjiah Hari ketujuh. Sudah seminggu saya berada di bulan Ramadhan ini. Bersyukur karena masih sanggup dan mampu puasa hari ini. Hari ini saya sedikit rada stres. Karena ketawa-ketawa sendiri pas baca bukunya Raditya Dika. Ya mungkin begitulah kalau ada orang yang ngeliat saya ketawa sendirian. Atau mungkin mereka iri. Begitulah hari ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu membaca buku. Dan tidak lupa bahagia. Sampai tadi penceramah shalat tarawihnya bilang. “Tolong kalau ibu dan bapak melihat saya di api neraka, selamatkan saya. Dan katakan pada Allah bahwa saya pernah kultum di tempat ini. Karena begitulah resiko seorang yang berilmu, dan berbeda derajatnya dengan orang yang tidak berilmu.” Setelah mendengar kata-kata itu. Saya jadi mikir. Nanti yang nyelametin gua di akhirat siapa ya? 22:06 dimalam yang tadi abis makan ager.

Film Alif Lam Mim

Enam Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan. Sudah enam hari bulan ramadhan ini berjalan. Di hari ini saya menonton film Alif Lam Mim di youtube. Film ini menceritakan negara Indonesia pada tahun 2026. Atau lebih ya, saya lupa. Pokonya menceritakan Indonesia di masa depan. Diceritakan dalam film itu bahwa Indonesia menjadi negara yang liberal. Sangat sentimen bahkan benci terhadap agama. Mulai dari yang bersorban. Ya, hanya bersorban. Di film ini menceritakan bagaimana negara Indonesia begitu takut dengan agama. Dikhususkan Islam. Para penguasanya ingin membuat negeri yang damai, namun tidak dengan agama. Yah, sebetulnya cerita ini saya pikir bisa terjadi di Indonesia. Seandainya, memang negara ini ada “revolusi” seperti yag terjadi di dalam film itu. Namun bagaimanapun, itu hanyalah film. Saya menoontonnya untuk mengambil pelajarannya dan membuang yang tidak ada manfaatnya. Cerita selengkapnya seperti apa silahkan tonton sendiri. Saya bukanlah oran...

Sepi.

Lima Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah. Mulai terasa lelah puasa hari ini. Ditambah hujan yang selalu mengguyur kota setiap sorenya. Seakan anomali dengan bulan Ramadhan yang panas. Kalau tidak salah begitu artinya. Dan malam ini, selepas tadarus Al-Qur’an bersama di masjid. Yang membacanya juz lima. Saya merasa dingin. Karena yang bertadarus di masjid jumlahnya tidak lebih dari jari di satu tangan.  Yah, begitulah. Kondisi cuaca yang seperti ini memang enaknya beristirahat. Bukan beribadah. Jumlah shaff di shalat Tarawih juga mulai berkurang. Tadi saya lihat hanya bersisa dua shaff. Ahh, mungkin karena hujan. Tapi begitulah Kota Bogor. Yang televisi di siarkan bahwa Bendung Katulampa Siaga 3. Dan kemenag merekomendasikan 200 mubaligh. Yah, saya hanya ingin bersyukur bisa merasakan nikmat seperti ini.  Tetap ingin konsisten untuk menulis. Semoga mampu. 22:18 yang abis makan kripik.

Tulisan Buat Kemarin

Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Saya telat upload untuk tanggal Tiga Ramadhan. Karena kehabisan kuota yang belum sempat ada kemarin. Ternyata segala rencana yang kita usahakan untuk berhasil pasti saja ada gangguan. Walaupun itu hanya kehabisan kuota. Dan sekarang sudah masuk tanggal Empat Ramadhan. Yang berarti tulisan ini untuk kemarin, Mau bagaimanapun hari ini adalah hari ini. Dan kemarin saya kembali berjualan dengan teman-teman saya. Ga tau untung apa enggaknya. Dan kuliah shubuh kemarin. Pa Haji mengingatkan jamaahnya. Bahwa sakit dan kematian adalah hal yang datang secara tak terduga. 14:06 di hari keempat.

Jum'at Pertama

Tiga Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Hari Jum’at pertama di bulan ramadhan. Banyak ilmu yang saya dapat hari ini. Karena ada kuliah shubuh, khutbah jum’at dan ceramah sebelum shalat tarawih. Itu semua sangat memotivasi diri saya untuk lebih baik lagi. Kuliah shubuh di sampaikan oleh Pa Haji Asep. Isinya berkenaan tentang waktu. Sedikit yang bisa saya ambil. Karena saya mendengarnya sambil mengantuk dan kadang-kadang merem. Karena ga melek. Pa Haji Asep mengingatkan kita bahwa waktu itu sangat berbahaya. Jika orang-orang bisa mengatakan bahwa waktu adalah uang, maka ummat islam bisa mengatakan bahwa waktu adalah taqarrub atau waktu adalah mendekatkan diri pada Allah. Kurang lebih begitulah isinya. Lalu untuk khutbah jum’at, yang menjadi khotibnya adalah Pa Arief. Yang mengingatkan kita tentang keutamaan bulan ramadhan. Yang dalam akhir khutbahnya, beliau tersedu saat mengucapkan kalimat “Manfaatkan ramadhan ini karena belum tentu kita ...

Nikmatnya Berbuka

Dua Ramadhan Seribu Tiga Ratus Empat Puluh Sembilan Hijriah. Di hari inilah saya merasakan nikmatnya berbuka puasa. Setelah menahan nafsu dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Seluruh ummat muslim membatalkan puasanya saat adzan maghrib berkumandang. Dari sinilah saya percaya. Bahwa, kenikmatan itu dapat kita rasakan setelah dirasakan tidak nikmat. Kenyang tidak akan nikmat kalau tidak ada lapar. Air minum tidak akan terasa nikmat jika tidak karena haus. Begitu juga kamu, tidak akan merasa bahagia jika tidak merindu. *eh. Apaansi. Di hari ini pulalah saya pertama kali berjualan di bulan Ramadhan. Yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Dagangan saya (klan kami) berada di samping masjid jika kalian lihat dari depan. Dan berada di belakang masjid jika kalian lihat dari samping. Bingungkan? Sama saya juga. Dagangan yang kami jual tidak lain adalah gorengan, es buah, sampai gorengan es buah (yang ini boong). Pokonya jualan hari ini cukup melela...

Hakikat Ilmu dan Kegunaan Ilmu?

Tadi pagi saya membuka kembali buku tentang filsafat ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri (saya tidak tahu gelarnya). Saya sebetulnya sudah sedikit membaca isi buku tersebut beberapa tahun yang lalu. Dan tadi pagi saya membaca kembali karena ingin mengingat kembali apa yang sudah saya baca. Yang pertama saya buka adalah daftar isinya. Karena kalau buka puasa nanti maghrib waktunya. Nah, di akhir buku tersebut ada bab yang berjudul “Hakikat dan Kegunaan Ilmu”. Dan dalam sebuah paragraf ada tulisan yang menarik minat saya dan membuat saya setuju dengan apa yang saya baca. Tulisan itu seperti ini: “Suatu hari bertanyalah seorang murid kepada Plato apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah diberikannya selama ini. Filsuf besar ini merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini dan langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah. Pada waktu itu pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan prakt...

Persiapan

Satu Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Hijriah. Satu Ramadhan yang bertepatan di tahun 2018 Masehi ini saya merasa rindu. Namun rindu yang malu saat bertemu dengannya. Kenapa saya malu? Karena saya tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Sebetulnya saya sudah mempunyai bahan evaluasian Ramadhan dari tahun kemarin. Dan salah satu evaluasinya adalah. Persiapan. Yang di Ramadhan ini, saya justru tidak mempersiapkan diri dengan baik. Banyak alasan yang bisa saya sebutkan. Tapi begitulah orang gagal, selalu mencari banyak alasan. Malam ini di tanggal yang enam belas mei dua ribu delapan belas masehi. Adalah malam pertama saya dan seluruh ummat muslim di dunia melaksanakan shalat Tarawih. Dengan jumlah rakaat, tempat, dan imam yang berbeda-beda. Tarawih malam ini begitu menyentuh hati saya. Pada rakaat pertama shalat Isya saja. Saya ingin menangis rasanya. Ingin menangis karena bacaan imam yang begitu merdu, dan menyesal tidak mempersiapkan k...

Keberkahan Ilmu

Beberapa hari yang lalu Saya pergi ke luar kota untuk mengurus pendaftaran di salah satu Universitas di kota tersebut. Karena pendaftarannya dimulai pada keesokan harinya. Saya jadi menginap di rumah Syamil, teman Saya yang tinggal di kota tersebut. Saya sampai di rumahnya sekitar pukul sebelas siang. Lalu kami berbincang sebentar dan Shalat Dzuhur.  Syamil ini teman Saya saat SMP, yang pindah ke luar kota saat lulus SMP. Dan dia sekolah di salah satu pesantren. Saya bisa menginap di rumah dia karena kebetulan, pesantrennya sedang mengijinkannya pulang minggu ini. ”Salman, mending kamu tidur dulu aja, pasti cape kan baru datang dari luar kota.” Kata Syamil Atas usulannya Saya pun tidur di kamarnya. Beberapa saat Saya tidur, Saya terbangun pukul setengah empat sore. Yang berarti Shalat Ashar telah memasuki waktunya. Namun saat terbangun, tidak terlihat teman Saya di kamarnya. Jadi dengan inisiatif dan tanpa ijin, pergilah Saya ke kamar mandi yang ada di dapur. ...